Mari Elka Pangestu. Foto: AFP/FABRICE COFFRINI
Direktur Pelaksana Bank Dunia, Mari Elka Pangestu, menyebut pandemi COVID-19 memberikan tekanan pada perekonomian di seluruh negara, termasuk Indonesia. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi masih akan di bawah potensi hingga beberapa tahun ke depan.
Dengan begitu, dibutuhkan waktu hingga lima tahun agar perekonomian Indonesia bisa kembali pulih dan normal atau tumbuh seperti sebelum adanya pandemi virus corona.
“Kali ini jika kita kontraksi 2 persen, kita butuh 1 persen di bawah potensi, 4 persen. Untuk dua hingga tiga tahun ke depan, mungkin kita perlu waktu tiga hingga lima tahun untuk kembalikan situasi seperti pre-COVID-19,” ujar Mari dalam webinar Forum Diskusi Salemba 46, Sabtu (30/1).
Eks Menteri Perdagangan itu melanjutkan, situasi yang sama juga terjadi saat krisis ekonomi tahun 1998. Namun menurutnya, saat itu Indonesia memerlukan waktu untuk kembali pulih sekitar delapan tahun.
“Krismon 98 itu kontraksi yang sangat berat dan memerlukan beberapa tahun dengan low growth. So we basically like eight years sebelum balik lagi ke pre-krismon,” jelasnya.
Mari menegaskan, sangat penting untuk melakukan perubahan dan transformasi agar ekonomi bisa bangkit. Dia pun menuturkan, pandemi akibat virus corona ini juga membuat pertumbuhan ekonomi di seluruh negara bisa di bawah potensinya selama bertahun-tahun.
“Yang harus kita sadari adalah, apa yang terjadi dengan pandemi ini, pertama adanya kontraksi. Kedua, kita akan mengalami pertumbuhan yang di bawah potensi dan ini akan diperkirakan berlangsung sepuluh tahun jika kita tidak melakukan perubahan-perubahan dari segi kebijakan maupun recovery investment,” tuturnya.
Adapun di tahun ini Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh 4,4 persen, dengan estimasi tahun lalu minus 2,2 persen. Perekonomian di tahun ini bisa pulih, dengan catatan program vaksinasi berjalan dengan baik dan positifnya laju investasi.
Editor : Parna
Sumber : kumparan