Ilustrasi Es Krim (ist)
Siapa yang menyangka bahwa hasil tes sebuah rpoduk es krim –makanan manis yang menjadi dambaan banyak orang di dunia– bisa dinyatakan positif COVID-19. Memang, dalam pengetahuan umum, mengenai kemampuan virus untuk bertahan di tempat bersuhu rendah sudah diketahui sejak lama. Hingga saat ini, virus tersebut pun akhirnya ditemukan dalam sajian es krim.
Mengutip Insider, COVID-19 telah ditemukan dalam es krim yang diproduksi di China. Penemuan ini menyebabkan pemerintah menarik produk-produk tersebut serta mengkarantina 1.662 karyawan pabrik.
Pihak berwenang mengatakan bahwa perusahaan The Daqiaodao Food Co di kota Tianjin memproduksi 4.836 box (29.000 karton) es krim yang terkontaminasi COVID-19. Sejumlah 2.089 box di antaranya telah disegel dan disimpan di tempat penyimpanan.
Produk Es Krim di China Ini Positif COVID-19, 1.662 Karyawan Pabrik Dikarantina (1)
Ilustrasi es krim di supermarket Foto: Shutter Stock
Namun, sisanya sudah di distribusi ke toko-toko di kota tersebut, dan sedang dilacak keberadaannya. Hingga saat ini, belum ada indikasi penyebaran virus corona dari es krim yang terkontaminasi itu.

Total 29.000 karton es krim terjual dan dalam pelacakan

Meski begitu, koordinasi antar kota juga akan dilakukan. Pihak berwenang mengatakan bahwa mereka telah memberi tahu kota lain tentang masalah tersebut. Untungnya 29.000 karton es krim yang terkontaminasi belum terjual, sedangkan 390 lainnya yang terjual sedang dilacak keberadaannya.
Untuk menjaga keamanan, seluruh karyawan perusahaan juga akan menjalani pengujian —700 di antaranya sudah dinyatakan negatif. Mereka yang telah membeli produk tersebut juga diberi tahu untuk segera melaporkan kesehatan dan pergerakan mereka ke pihak berwenang.
Produk Es Krim di China Ini Positif COVID-19, 1.662 Karyawan Pabrik Dikarantina (2)
Ilustrasi es krim corona. Foto: Amr Abdallah Dalsh/REUTERS
Salah satu hal yang menjadi perhatian publik, bahan es krim yang terkontaminasi itu menggunakan susu bubuk dari Selandia Baru, seperti dikutip dari Independent. Meski begitu, belum ada bukti bahwa bahan ini merupakan penyebab dari kontaminasi COVID-19.
Menurut Universitas Johns Hopkins, China telah mengalami 4.979 kematian secara total —dengan Komisi Kesehatan negara itu menyalahkan peningkatan infeksi berasal dari pendatang serta barang impor dari luar negeri. Tetapi, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan kalau kasus virus hidup pada kemasan tampaknya langka dan terisolasi.
Editor : Aron
Sumber : kumparan