Anjing bernyanyi Papua (ANTARA/PTFI)

Anjing bernyanyi Papua yang langka ternyata memiliki sejumlah kemiripan dengan anjing liar pegunungan Papua serta dengan dingo yang berhabitat di Australia.

Penelitian kedua ini dilakukan untuk menganalisis hubungan genetik antara anjing bernyanyi di Papua dengan anjing liar lain yang hidup di dataran tinggi Papua (highland New Guinea wild dog).

Anjing menyanyi Papua sempat dikira punah puluhan tahun lalu. Jurnal PNAS menyebut anjing ini tak pernah ditangkap atau ditemukan di alam liar sejak 1970-an dan diyakini telah punah.

Anjing disebut bernyanyi karena tidak menggonggong seperti anjing lain, tapi lebih sering melolong. Penelitian mengenai anjing ini masih minim. Para peneliti masih menyelidiki apa arti lolongan dari anjing-anjing ini, seperti dilaporkan CNNIndonesia TV.

Penelitian tahap dua ini dilakukan Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, New Guinea Highland Wild Dog Foundation (NGHWDF), dan bekerjasama dengan PT Freeport Indonesia (PTFI).

Spesies anjing bernyanyi dapat ditemukan di hampir seluruh area tambang Grasberg PTFI. Tak ayal, sejumlah karyawan yang bekerja di area Grasberg juga kerap menyaksikan keberadaan kawanan anjing ini dari jarak dekat.

“Anjing bernyanyi sama sekali tidak menyerang manusia. Sebaliknya, kawanan anjing ini beberapa kali ditemukan dapat hidup dan beraktivitas berdampingan dengan para karyawan kami yang bekerja di sekitar tambang terbuka,” kata General Superintendent of Highland Reclamation and Monitoring PTFI Pratita Puradyatmika, seperti dikutip Antara.

Penelitian tahap kedua dilakukan selama satu bulan, tepatnya pada Agustus 2018 di Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika.

Sebelumnya, penelitian pertama terhadap spesies anjing bernyanyi itu telah dimulai sejak 2016 dilakukan oleh Universitas Negeri Papua (Unipa) Manokwari bersama NGHWDF pada 2016.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan di jurnal internasional Amerika Serikat, yaitu Proceeding of the National Academy of Sciences (PNAS). Pertama dipublikasikan pada 31 Agustus 2020 dan diperbarui pada 29 September.

Pada penelitian kedua, para peneliti mengamati dengan perangkap berkamera (camera trap) selama dua pekan. Tim pun peneliti berhasil merekam 18 ekor anjing bernyanyi.

Penelitian juga dilakukan dengan mengumpulkan sampel darah, kulit, dan rambut anjing untuk menganalisis ciri fisik, demografi, dan perilaku dari hewan tersebut.

Warga lokal meyakini bahwa anjing bernyanyi merupakan keturunan dari nenek moyang mereka.

Anjing bernyanyi dapat dikenali dengan rambut yang lebih tebal dan ukuran badan relatif lebih kecil dibandingkan anjing liar lainnya, yakni tinggi sekitar 45 cm untuk anjing jantan dan 37 cm untuk anjing betina, dengan panjang tubuh sekitar 65 cm untuk jantan dan 55 cm untuk betina.

Hewan ini hidup dalam kawanan kecil, dengan jumlah sekitar dua hingga tiga ekor dalam satu kelompok.

Hal lain yang juga membedakan anjing ini dengan anjing lainnya adalah caranya berkomunikasi yaitu bukan dengan menggonggong melainkan hanya melolong.

Lolongan unik yang menyentuh melodi rendah hingga tinggi inilah yang membuat masyarakat setempat menyebut hewan ini dengan nama ‘anjing bernyanyi’.

Meski demikian, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan banyak hal, termasuk untuk mempertimbangkan secara ilmiah status perlindungannya, mengingat hewan ini perlu dijaga kelestariannya dan belum masuk ke dalam daftar hewan yang dilindungi.

Rektor Uncen DR Apolo Safanpo mengemukakan bahwa Uncen masih akan melanjutkan penelitian fase ketiga pada Mei 2021.

“Mengingat masih ada banyak hal yang perlu kami dalami, seperti taksonomi, perkembangbiakan, kehidupan sosial, perannya dalam rantai makanan, dan hal lain yang bisa menjadi dasar ilmiah bagi penentuan status perlindungan anjing bernyanyi,” kata Apolo.

Situs penelitian berada di kawasan bekas tambang terbuka Grasberg milik PTFI di ketinggian 3.800 hingga 4.300 meter di atas permukaan laut.

Jauhnya lokasi dan berbagai keadaan geografis di lokasi penelitian menjadi salah satu kendala yang dihadapi oleh tim peneliti saat merampungkan penelitian ini.

“Salah satu tantangan terbesar kami dalam memaksimalkan penelitian ini adalah lokasi penelitian yang terpencil dengan medan perjalanan yang begitu ekstrem dan sulit ditempuh dengan kendaraan biasa. Untuk itu, kami bekerja sama dengan PT Freeport Indonesia yang mendukung penelitian ini dengan menyediakan berbagai fasilitas pendukung dan transportasi, terutama untuk membantu kami mencapai medan yang begitu sulit ditempuh di area kerja PTFI,” ujarnya.

Editor : Aron
Sumber : cnnindonesia