Peralatan untuk membuat sabu kualitas impor yang ditemukan di pabrik sabu milik tersangka Pheng Chun di kompleks Metland, Tangerang, Rabu, 8 Agustus 2018. Antonius diketahui telah memproduksi sabu sejak Mei 2017 menggunakan bahan-bahan kimia yang dijual bebas di pasaran. TEMPO/Fakhri Hermansyah

Tim Khusus Direktorat Reserse a Kepolisian Daerah Nusa Tenggara Barat (NTB), berhasil mengungkap keberadaan pabrik sabu di Lombok Timur.

Direktur Reserse Narkoba (Dirresnarkoba) Polda NTB Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf mengatakan keberadaan pabrik sabu di Lombok Timur ini berhasil terungkap berkat peran masyarakat.

“Jadi tidak ada hentinya, saya mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi untuk masyarakat. Karena terungkapnya rumah produksi sabu-sabu ini berawal dari informasi masyarakat,” kata Helmi di Mataram, NTB, Minggu (22/11) seperti dilansir Antara.

Awalnya, katanya, informasi menyebutkan ada satu lokasi di wilayah Pancor, Kabupaten Lombok Timur, kerap menjadi tempat berkumpulnya para pengedar narkoba.

“Kemudian anggota kami bergerak ke lokasi yang disebutkan dan melakukan penangkapan,” ujarnya.

Penangkapan bersama Tim Satresnarkoba Polres Lombok Timur itu dilaksanakan pada Sabtu (21/11) siang. Lokasi yang menjadi sasaran tersebut adalah rumah kos.

Delapan orang ditangkap dari empat kamar rumah kos lengkap dengan barang bukti narkotika jenis sabu. Mereka yang ditangkap berinisial SR (24), RS (27), HA (24), RP (25), LN (27), RAK (36), HA (37), dan SH (32).

Dari penangkapan delapan orang, pihak kepolisian mengamankan belasan poket sabu-sabu siap edar dengan berat berat keseluruhannya mencapai puluhan gram.

Ada juga disebutkan barang bukti perangkat isap sabu, timbangan digital, poket klip plastik kosong, telepon pintar dan uang tunai jutaan rupiah.

“Kemudian dari penangkapan pertama, anggota mendapat informasi asal-usul sabu tersebut dari seseorang yang mereka panggil ustaz,” ucap Helmi.Menindaklanjuti informasi tersebut, jelas Helmi, tim gabungan langsung melakukan pengembangan dan menyasar ke rumah Ustad berinisial SA (45), di wilayah Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur.
“Dari TKP kedua ini lah, tim kami miris setelah melihat di dalam rumah ustaz ini ada ruangan yang memang disiapkan untuk memproduksi narkotika jenis sabu skala rumahan,” kata Helmi.
Dalam ruangan yang diduga menjadi tempat produksi sabu-sabu tersebut, ditemukan cairan kimia beragam jenis pada botolan jerigen kotak berwarna putih.
Ada yang bertuliskan cairan mekaphelamit, mixsofir, dan dimethyl sulfoxide. Ada juga ditemukan tabung pemadam kebakaran, satu kotak alumunium foil, kompor elektrik, gelas ukur, dan juga cawan kaca.
“Jadi selain berang-barang yang berhubungan dengan alat pembuatan sabu, ada juga didapatkan sabu-sabu,” ujarnya.Ak
si mengungkap jaringan narkoba ini tidak berhenti sampai di rumah produksi sabu di kediaman sosok yang disebut ustaz. Namun muncul lagi satu identitas pria yang disebut ustaz tersebut sebagai pemasok bahan baku pembuatan sabu-sabu.
“Orang yang disebut oleh Ustad ini adalah seorang warga binaan Lapas Kelas IIA Mataram, dia dikenal dengan nama Jenderal Yusuf,” kata Helmi.
Menindaklanjutinya, tim langsung berkoordinasi dengan pihak Lapas Kelas IIA Mataram dan melakukan penangkapan terhadap Jenderal Yusuf.
“Sabtu (21/11) malam itu juga, Jenderal Yusuf kita amankan di lapas beserta telepon genggam miliknya,” ucap Helmi.
Lebih lanjut, seluruh pria yang diamankan dari tiga lokasi kini telah mendekam di balik jeruji besi Mapolda NTB. Mereka beserta barang bukti masih menjalani pemeriksaan lanjutan di hadapan penyidik.
Atas perbuatannya, kini sepuluh pelaku pabrik sabu di Lombok Timur, termasuk Jenderal Yusuf yang berstatus warga binaan Lapas Kelas IIA Mataram terancam kena pidana Pasal 112 Ayat 2, Pasal 113 Ayat 2, Pasal 114 Ayat 2, Pasal 132 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 35/2009 tentang Narkotika.

Editor :Aron

Sumber : cnnindonesia