Ilustrasi ledakan. (Istockphoto/ RamonCast)

Ledakan bom dilaporkan terjadi di pemakaman non-Muslim di Jeddah, Arab Saudi, dalam upacara peringatan berakhirnya Perang Dunia I yang dihadiri oleh beberapa diplomat Eropa, Rabu (11/11).

Diplomat dari konsulat Prancis menjadi salah satu yang menghadiri peringatan tersebut, tapi belum ada informasi apakah terdapat korban jiwa dari pihaknya. Sementara Kementerian Luar Negeri Prancis telah mengutuk keras serangan itu.

“Upacara tahunan untuk memperingati berakhirnya Perang Dunia I di pemakaman non-Muslim di Jeddah, yang dihadiri oleh beberapa konsulat, termasuk konsulat Prancis, menjadi sasaran serangan alat peledak pagi ini, yang melukai beberapa orang,” ujar Kemlu Prancis.

“Prancis mengutuk keras serangan pengecut dan tidak bisa dibenarkan ini,” kata Kemlu seperti dikutip dari AFP.

Serangan itu tercatat sebagai insiden teror kedua yang terjadi di Jeddah.

Bulan lalu, warga Arab Saudi melukai seorang penjaga di konsulat Prancis di Jeddah dengan menggunakan pisau.

Kejadian itu terjadi di hari yang sama ketika seorang pria bersenjatakan pisau membunuh tiga orang di Gereja Notre Dame Basilica di Nice, Prancis selatan pada Kamis (29/10).

“Penyerang ditangkap oleh pasukan keamanan Saudi segera setelah serangan itu. Penjaga itu dibawa ke rumah sakit dan nyawanya tidak dalam bahaya,” kata kedutaan Prancis dalam sebuah pernyataan seperti dikutip dari France24.

Korban diketahui menderita luka ringan.

Polisi di provinsi Mekah mengatakan penyerangnya adalah seorang warga Saudi, tapi pihaknya tidak menyebutkan kewarganegaraan korban.

Kedutaan Besar Prancis di Riyadh telah mengutuk keras serangan itu dan mendesak warganya di Arab Saudi untuk melakukan “kewaspadaan ekstrem”.

Baik otoritas Saudi maupun kedutaan Prancis tidak memberikan indikasi apa pun tentang motivasi di balik serangan tersebut.

Tapi serangan itu terjadi tak lama setelah Presiden Prancis Emmanuel Macron membela penerbitan ulang karikatur Nabi Muhammad oleh majalah satire Charlie Hebdo dengan alasan kebebasan berbicara.

Pembelaan Macron atas karikatur itu muncul setelah pembunuhan brutal yang menimpa guru sejarah di Prancis, Samuel Paty yang menggunakan karikatur itu sebagai bahan ajar di kelasnya tentang kebebasan berbicara.

Pihak Arab Saudi telah mengkritik karikatur itu dan menyatakan penolakan terhadap setiap upaya yang menghubungkan Islam dengan terorisme.

Tak hanya itu, sikap Macron pun membuat marah banyak umat Muslim dan memicu aksi protes di beberapa negara. Banyak massa yang membakar foto Macron dan menggaungkan kampanye untuk memboikot produk buatan Prancis.

Editor : Aron

Sumber : ccnindonesia