Ilustrasi. Satu dari lima pasien Covid-19 ditemukan mengalami gangguan kejiwaan

Studi terbaru menunjukkan, pasien positif covid-19 rentan mengalami ganguan kejiwaan seperti kecemasan dan depresi. Penelitian ini menemukan, satu dari lima pasien Covid-19 mengalami gangguan kejiwaan.

Hasil penelitian ini didapat setelah peneliti dari University of Oxford melihat catatan medis 69 juta orang di Amerika Serikat pada 20 Januari hingga 1 Agustus. Data ini mencakup 62 ribu orang yang positif Covid-19. Berdasarkan data analisis, studi ini merupakan penelitian terbesar mengenai hubungan virus corona dengan kesehatan mental.

Peneliti mendapati, dalam tiga bulan setelah dites positif Covid-19, hampir satu dari lima atau 18 persen didiagnosis mengalami gangguan kejiwaan. Jumlah ini dua kali lipat lebih banyak dibandingkan pasien dengan penyakit lain dalam periode yang sama seperti penyakit infeksi kulit, patah tulang besar, batu empedu, dan batu ginjal.

Dalam periode 14 hingga 90 hari setelah positif Covid-19, 5,8 persen orang didiagnosis memiliki penyakit kejiwaan yang baru dialami. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan dengan 2,5 persen hingga 3,4 persen pasien dari kelompok pembanding. Peneliti lalu menyimpulkan, orang dewasa memiliki risiko sekitar dua kali lipat mengalami gangguan kejiwaan setelah diagnosis Covid-19.

Orang yang sudah memiliki gangguan kejiwaan sebelum mengidap Covid-19 juga lebih mungkin memiliki gejala gangguan kejiwaan yang lebih parah.

Namun, studi yang dipublikasikan di jurnal Lancet Psychiatry ini tidak menjelaskan hubungan antara Covid-19 dengan diagnosis psikiatri atau kejiwaan.

Menurut peneliti profesor psikiatri dari University of Oxford, Paul Harrison, gangguan kejiwaan bisa muncul dari efek neurologis atau biologis virus, obat yang digunakan, serta kecemasan karena pandemi.

“Kami perlu berhati-hati dalam interpretasi kami,” kata Harrison dalam jumpa pers, dikutip dari CNN.

Kendati demikian, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk melihat efek gangguan kejiwaan dalam jangka panjang.

 

Editor : Aron

Sumber : cnnindonesia