Putra Mahkota Jepang Akishino. (Imperial Household Agency of Japan via AP)

Jepang secara resmi mendeklarasikan Putra Mahkota Akishino menjadi pewaris takhta kerajaan, Minggu (8/11). Upacara peresmian berlangsung di kediaman kerajaan, Istana Kekaisaran di Tokyo.

Selain Kaisar dan Permaisuri, banyak anggota keluarga kerajaan lain yang menghadiri upacara tersebut. Perdana Menteri Yoshihide Suga dan perwakilan dari kedutaan asing juga turut menghadiri.

“Saya sangat merenungkan tanggung jawab Putra Mahkota dan akan melaksanakan tugas saya,” kata Akishino di depan para hadirin dalam rekaman siaran publik NHK dilansir dari CNN, Senin (9/11).

Acara peresmian dihiasi dengan ritual tradisional “pedang penjaga”. Dalam ritual tersebut Kaisar Jepang Naruhito menyerahkan pedang kepada Akishino, sebagai simbol keputusan penerus takhta berikutnya.

Seharusnya acara pewarisan takhta ini digelar April lalu, namun terpaksa ditunda karena adanya pandemi virus corona.

Akishino (54) adalah salah satu dari tiga pewaris takhta bersama dengan Hisahito (14), dan Pangeran Hitachi (84), adik dari Kaisar Emeritus Akihito yang mengundurkan diri pada tahun lalu.

April lalu, Kaisar Emeritus Akihito secara resmi turun takhta, menjadi raja pertama negara itu yang turun dari Takhta Krisan dalam dua abad.

Setelah menjalani operasi jantung dan berkutat dengan kanker prostat dalam beberapa tahun terakhir Akihito akhirnya mengundurkan diri karena kondisi kesehatan yang terus menurun.

Pelantikan putranya, Naruhito, mengantarkan era “Reiwa”. Akishino sekarang berada di urutan pertama untuk jadi kaisar Jepang selanjutnya.

Di bawah hukum Jepang, hanya laki-laki yang dapat mewarisi takhta, jadi satu-satunya anak Naruhito, Putri Aiko yang berusia 18 tahun, tidak memenuhi syarat tersebut.

Sebenarnya Jepang pernah beberapa kali dipimpin permaisuri, namun ketika Jepang dimodernisasi, para pemimpin mengubah peran kaisar dan menetapkan suksesor kerajaan hanya boleh pria.

Pada 1889 wanita akhirnya secara resmi dilarang untuk dinobatkan sebagai pewaris takhta.

Dalam beberapa dekade terakhir, ada perdebatan untuk memperkenalkan undang-undang yang memungkinkan perempuan naik takhta kembali, namun kelahiran Hisahito – pewaris laki-laki pertama yang lahir dalam 40 tahun – mengakhiri perdebatan itu.

Hukum terkait suksesor kerajaan Jepang mendapat perhatian nasional lagi pada 2018 setelah Putri Ayako menikah dengan warga negara biasa.

 

Editor : Aron

Sumber : cnnindonesia