Megawati Soekarnoputri - MI/Barry Fathahillah

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menyebut kondisi Jakarta amburadul. Menurutnya, itu terjadi karena Jakarta tidak menerapkan konsep city of intellect. Yakni, sebuah konsep tentang ‘kota mahasiswa’ yang ditawarkan Sukarno.

Pernyataan itu disampaikan Mega saat menerima penghargaan ‘City of Intellect’ untuk Kota Semarang yang dipimpin oleh kader PDIP Hendrar Prihadi. Penghargaan itu diberikan oleh Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

“Persoalannya sekarang Jakarta jadi amburadul karena seharusnya city of intellect dapat dilakukan. Tata kota, master plan siapa yang buat, tentunya para akademisi,” kata Mega saat menyampaikan pidato secara virtual, Selasa (10/11).

Penghargaan ‘City of Intellect’ merupakan ajang penghargaan bagi kota dengan iklim pendidikan tinggi terbaik. Penghargaan itu merupakan yang pertama diselenggarakan di Indonesia. Selain Semarang, Kota Surabaya dan Kota Solo juga menerima penghargaan tersebut. Kedua kota itu juga dipimpin oleh kader PDIP.

Meski demikian, Mega tak merinci apa sebetulnya konsep city of intellect itu. Dia hanya menyayangkan UNJ di Rawamangun, Jakarta, sebagai inisiator penghargaan yang justru belum masuk kategori city of intellect. Padahal, prasasti tentang konsep tersebut justru berada di sana.

“Sayang kan kalau Rawamangun belum berhasil jadi city of intellect. Jadi para akademisi, saya mohon sangat, secara akademis kita melihat, kita ini tujuannya mau ke mana,” kata Megawati.

Lantas, apa itu sebetulnya city of intellect?

Satu pekan sebelum penghargaan ‘City of Intellect’ diselenggarakan, ada satu diskusi di kampus UNJ yang membahas tentang konsep tersebut. Diskusi itu berjudul ‘Dari Rawamangun untuk Indonesia: Menapaki Jejak Pemikiran Soekarno tentang City of Intellect’. Diskusi itu dihelat Rabu 4 November 2020.

Dalam diskusi tersebut, Ketua Senat sekaligus Guru Besar UNJ, Hafid Abbas, mengajak peserta untuk kembali ke Rawamangun pada 15 September 1953. Kala itu, Sukarno meletakkan batu pertama pembangunan Asrama Daksinapati. Di sana, Sukarno meninggalkan prasasti bertuliskan ‘Kota Mahasiswa Djakarta.

Pada saat itu UNJ belum lahir. Kampus yang berdiri di Rawamangun adalah kampus Universitas Indonesia (UI). Khususnya untuk fakultas non-eksakta seperti fakultas ekonomi, hukum, hingga sastra.

Menurut Hafid, prasasti peninggalan Sukarno di Rawamangun itu melampaui zamannya. Sebab di tingkat global, kata Hafid, gagasan tentang kota mahasiswa (city of student) baru dikenal pada tahun 2010. Tepatnya saat Quacquarelli Symonds(QS) bersama Times Higher Education (THE) mempublikasikan hasil studi pemeringkatan kota-kota mahasiswa terbaik di dunia.

“Ternyata pikiran Bung Karno 67 tahun lalu juga mirip PBB pada 2014 ketika mencanangkan world cities day. Karena kota itu diharapkan PBB bersih, ramah dan inklusif dan mengatasi masalah urbanisasi. Semangat itu sebetulnya sudah dicanangkan Bung Karno,” kata Hafid.

Dalam kriteria QS, suatu kota layak disebut sebagai ‘Kota Mahasiswa’ apabila terdapat minimal memiliki dua perguruan tinggi dengan reputasi baik yang melayani masyarakat berpenduduk lebih dari 250 ribu jiwa. Selain itu, inklusivitas, biaya pendidikan, hingga tingkat keamanan kota juga menjadi penilaian tersendiri.

Menurut Hafid, definisi ‘Kota Mahasiswa’ yang tertulis di prasasti Sukarno memang tak begitu gamblang. Sukarno tak pernah merinci sejumlah kriteria untuk menerangkan istilah tersebut. Bahkan sebagai sebuah konsep, istilah ‘Kota Mahasiswa’ dari Sukarno pun tak begitu dikenal pada masanya.

Namun demikian, Hafid melihat bagaimana istilah ‘Kota Mahasiswa’ pada prasasti itu dapat ditafsirkan sesuai dengan tren global saat ini. Oleh sebab itu, Hafid menulis esai untuk diskusi itu berjudul ‘Reflection to President Soekarno’s Legacy on The Student City of Jakarta’ sebagai penegasan bahwa Indonesia memiliki monumen untuk kebangkitan akademik.

Hal lain yang perlu dicatat, Sukarno tak pernah menggunakan istilah city of intellect. Istilah yang digunakan Sukarno pada prasasti di Rawamangun adalah ‘Kota Mahasiswa’ (Student City). Istilah itu sama persis dengan yang digunakan QS untuk menentukan peringkat kota mahasiswa terbaik dunia.

Namun, Hafid dan sejumlah pembicara di UNJ sepakat bahwa Sukarno telah meletakkan dasar konsep city of intellect. Hal itu pula yang melatarbelakangi UNJ berinisiatif memberikan penghargaan kepada kota-kota yang dianggap ramah terhadap mahasiswa.

Apabila ditelusuri, istilah city of intellect juga bukan sesuatu yang asing. Di tingkat global, istilah itu pertama kali dikemukakan oleh ekonom AS Clark Kerr sekitar tahun 1960. Clark menggambarkan city of intellect sebagai kota dengan variasi tak terbatas. Sebuah kota di mana hubungan kampus dan masyarakat tak terpisahkan. Sebuah hubungan yang penuh dialog.

Untuk memahami jalan pikiran Clark, kita mesti melihat tradisi lampau pendidikan tinggi di Eropa. Pernah ada masa ketika kampus-kampus layaknya menara gading yang jauh dari masyarakat. Kampus sibuk mengurus hal-hal yang idealis, abstrak, dan bersifat teoritis. Clark pun ingin mengubah semua itu.

Dalam buku ‘The Future of City of Intellect: The Changing American University’, Clark membayangkan ‘City of Intellect’ sebagai universitas riset. Riset di sini yang terkait langsung dengan masyarakat. Logika kampus semestinya, menurut Clark, berfokus pada penelitian terapan, kontribusi pembangunan ekonomi, dan investasi.

“Para politikus membutuhkan ide-ide baru untuk mengatasi masalah-masalah baru; lembaga-lembaga tersebut membutuhkan nasihat ahli tentang bagaimana menangani masalah-masalah lama. Profesor dapat menyediakan keduanya,“ tulis Clark.

Hal lainnya, kampus harus menciptakan intelektual terampil yang bisa diterima oleh industri. Sejumlah inovasi di berbagai sektor akan memberikan satu benefit yang besar untuk masyarakat kota. Bahkan, benefit itu akan mengalir ke wilayah-wilayah lain di sekitar kota tersebut.

Agar semua itu bisa terwujud, kampus harus berbenah. Clark melihat cara-cara lama sudah tak bisa lagi diterapkan di masa mendatang. Mahasiswa perlu terjun langsung melihat bagaimana industri itu bekerja. Kualitas pendidikan pun mesti ditingkatkan untuk menciptakan kota intelektual.

 

Editor : Aron

Sumber : Kumparan