Cerpelai, salah satu hewan yang dapat terinfeksi COVID-19. //Live Science

Sebanyak 15 juta Cerpelai di Denmark dimusnahkan karena menularkan virus corona ke manusia.

Menteri Kesehatan Denmark Magnus Heinicke mengatakan ratusan kasus Covid-19 di Denmark berasal dari binatang pengerat tersebut.

Mengutip Associated Press, kasus tersebut tepatnya berada di Denmark bagian utara. Setidaknya ada setengah dari 783 kasus di sana yang berasal dari cerpelai. Dan belasan kasus yang langsung tertular dari binatang itu.

“Kami memiliki tanggung jawab besar terhadap populasi kami, tapi mutasi (dari virus covid-19) sudah ditemukan. Kita juga memiliki tanggung jawab lebih besar untuk (populasi) di dunia,” katanya dikutip NBC News, Kamis (5/11).

Terdapat 15-17 juta populasi cerpelai di Denmark. Binatang ini banyak diekspor untuk diberdayakan bulunya.

Pemerintah Denmark mengestimasi kerugian memusnahkan cerpelai bisa mencapai US$785 juta atau sekitar Rp11,2 triliun. Namun kepala kepolisian Denmark Thorkild Fogde menilai langkah itu perlu dilakukan segera.

Klaster penyebaran virus terus bermunculan di area peternakan cerpelai, meskipun binatang yang terinfeksi sudah dimusnahkan sejak Juni.

Ketua program darurat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Mike Ryan menyebut investigasi ini sebagai isu yang kompleks.

Menurutnya, mutasi bermula dari manusia yang menularkan virus kepada cerpelai, yang lalu menularkan kembali ke manusia.

Direktur pusat riset Statens Serum Institut, Kare Molbak memperkirakan insiden ini dapat memunculkan pandemi baru di dunia.

“(Skenario terburuknya, ada) Pandemi baru, mengulang semuanya kembali dari Denmark,” ucap dia.

“Inilah kenapa kita harus menanggapi ini dengan serius,” kata Molbak.

Pemusnahan populasi cerpelai juga dilakukan di Belanda dan Spanyol setelah penyebaran virus dan mutasi serupa ditemukan.

Sebanyak 10 ribu cerpelai pada peternakan di Utah, Amerika Serikat dilaporkan mati karena virus corona.

Dokter hewan di negara bagian tersebut, Dean Taylor, mengatakan penyebaran virus mematikan 50 persen dari populasi cerpelai di area peternakan.

Mutasi pertama kali ditemukan ketika seorang pekerja di peternakan dinyatakan positif. Setelah ditelusuri, ternyata virus berasal dari cerpelai di tempatnya bekerja.

“Setelah pengujian akhir selesai, kami akan membuat rencana negara bagian untuk menghentikan penyebaran virus ke lebih banyak peternakan. Jauh lebih mudah untuk mencegah, lalu menghentikannya terjadi sekaligus,” ucapnya.

Departemen Pertanian AS mencatat cerpelai sebagai binatang ke-50 yang dapat terjangkit Covid-19. Beberapa binatang lain termasuk kucing, anjing, macan dan singa.

 

Editor : Aron

Sumber : cnnindonesia