Ilustrasi kata kekinian yang masuk KBBI.

Tepat 92 tahun lalu, para pemuda Indonesia mengucap ikrar yang dikenal dengan istilah Sumpah Pemuda dalam Kongres Pemuda pada 28 Oktober 1928.

Dalam kongres yang disebut-sebut sebagai salah satu tonggak kesadaran berkebangsaan itu, para pemuda mengucap sumpah bahwa mereka bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa satu.

Bahasa menjadi salah satu poin penting dalam ikrar ini karena tutur kata juga dapat menjadi perekat hubungan berbangsa.

“Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,” demikian bunyi poin terakhir dalam sumpah tersebut.

Seiring waktu, banyak istilah yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari. Kata-kata tersebut akhirnya masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

Tak hanya yang sering digunakan dalam acara resmi, sejumlah kata di keseharian juga masuk ke daftar “kata resmi” berdasarkan KBBI. Berikut beberapa kata “kekinian” yang terdaftar di kamus.

1. Pansos

Kata pansos alias panjat sosial mulai sering digunakan ketika jejaring sosial semakin mudah diakses. Para warganet kerap menggunakan kata ini untuk menyebut orang yang mencari pengakuan dari “strata sosial” lebih tinggi dengan mendekati orang-orang tertentu.

Kata “pansos” akhirnya masuk ke dalam KBBI setelah pemutakhiran di akhir 2019. Namun dalam definisi KBBI, makna pansos mengalami penyempitan dengan terbatas di sekitar jagat maya.

Dalam keterangan KBBI, pansos didefinisikan sebagai “Panjat sosial; usaha yang dilakukan untuk mencitrakan diri sebagai orang yang mempunyai status sosial tinggi, dilakukan dengan cara mengunggah foto, tulisan, dan sebagainya di media sosial.”

Ilustrasi media sosial (LoboStudioHamburg/Pixabay)Ilustrasi media sosial. (LoboStudioHamburg/Pixabay)

2. Cie

Kata seruan ini sebenarnya sudah sering didengar di berbagai kesempatan, terutama ketika sedang menggoda seseorang. Namun, kata ini baru masuk ke dalam KBBI setelah pemutakhiran di akhir 2019.

KBBI mendefinisikan kata cie sebagai “kata seru yang digunakan untuk memuji atau menggoda seseorang agar tersipu.”

3. Julid

Istilah julid mulai ramai dipakai di jejaring sosial setelah penyanyi Syahrini menggunakan kata itu saat menanggapi komentar warganet.

Sejumlah pihak menganggap julid merupakan singkatan dari judes lidah. Namun, sebagian orang menyebut julid berasal dari bahasa Sunda, binjulid, yang berarti iri, dengki, dan kekanak-kanakan dalam merespons sesuatu.

Kata ini juga akhirnya masuk dalam KBBI setelah pemutakhiran pada 2019 lalu dengan keterangan arti “Iri dan dengki dengan keberhasilan orang lain, biasanya dilakukan dengan menulis komentar, status, atau pendapat di media sosial yang menyudutkan orang tertentu.”

4. Mager

Anak muda mulai sering menggunakan kata “mager” sekitar belasan tahun lalu. Saat itu, istilah mager tercipta dengan sederhana, untuk merujuk pada keadaan “malas bergerak”.

Kata itu akhirnya diadopsi menjadi bahasa Indonesia resmi dengan definisi “Malas (ber)gerak; enggan atau sedang tidak bersemangat untuk melakukan aktivitas.”

Top back view portrait of sleepy woman lying on stomach wearing pants singlet tired after hard dayIlustrasi mager. (Istockphoto/Deagreez)

5. Maksi

Belakangan, banyak orang menyingkat “makan siang” hanya dengan menyebut “maksi”. Singkatan ini akhirnya juga masuk ke dalam KBBI setelah pemutakhiran pada akhir 2019.

6. Kepo

Selain lima kata di atas, sejumlah kata lainnya ternyata sudah lebih dulu masuk ke dalam KBBI, salah satunya kepo. Sama seperti kata baru lainnya, istilah kepo juga mulai dikenal setelah warganet semakin aktif di jagat maya.

Secara umum, kepo digunakan untuk merujuk pada orang yang selalu ingin tahu tentang urusan orang lain.

Ada sejumlah perdebatan mengenai asal kata kepo. Sebagian orang menganggap kepo sebagai singkatan dari bahasa Inggris “knowing every particular object” atau tahu semua hal kecil.

Namun, sebagian orang menganggap kepo berasal dari bahasa sehari-hari di Singapura. Banyak warga Singapura kerap mengombinasikan bahasa Inggris dan Mandarin.

Kata “kepo” disebut-sebut berasal dari istilah “kay po” yang dalam bahasa Mandarin berarti orang dengan kebiasaan selalu ingin tahu urusan pihak lain.

Pada kesehariannya, orang Singapura sering berkata, “Eh, don’t be so kay po laaa.”

Dalam KBBI, kepo berarti “Rasa ingin tahu yang berlebihan tentang kepentingan atau urusan orang lain.”

ilustrasi cewek lagi gosipIlustrasi. (iStockphoto/Deagreez)

7. Baper

Sebagai singkatan yang juga berkembang di era media sosial, kata baper alias bawa perasaan juga kini sudah masuk ke dalam KBBI.

Dalam KBBI, baper diartikan sebagai “(ter)bawa perasaan; berlebihan atau terlalu sensitif dalam menanggapi suatu hal.”

8. Lebay

Kata lebay awalnya berkembang dari kata “lebih” dalam bahasa Indonesia untuk merujuk pada orang yang berlebihan dalam menanggapi sesuatu.

Dalam KBBI, definisi lebay adalah “Berlebihan (tentang gaya berbicara, penampilan, dan sebagainya).”

9. Alay

Istilah alay berkembang dari stereotip “anak layangan” yang dianggap kerap berperilaku norak. Kata ini kemudian mengalami perluasan makna sebagai orang yang berperilaku berlebihan untuk menarik perhatian.

Kata ini mulai populer sekitar tahun 2008. Saat itu, kata “alay” sempat masuk dalam daftar topik tren di Twitter. KBBI akhirnya mengadopsi kata itu dengan definisi “Anak layangan; gaya hidup yang berlebihan untuk menarik perhatian.”

10. Gebetan

Kata gebetan bermula dari istilah di era 1970-an, yaitu GBT alias gerakan bawah tanah. Istilah ini merujuk pada orang yang diincar untuk menjadi kekasih.

Karena kerap digunakan, kelamaan orang menyebutnya dengan singkat “gebet” dan akhirnya menjadi kata benda “gebetan”.

KBBI mendefinisikan gebetan sebagai “Seseorang yang sedang ditaksir atau disukai.”