Ilustrasi bendera China. (istockphoto/ Rawpixel)

China menyatakan akan menjatuhkan sanksi kepada sejumlah perusahaan Amerika Serikat yang terlibat dalam penjualan senjata ke Taiwan. Perusahaan-perusahaan itu yakni Lockheed Martin, Boeing, dan Raytheon.

Berbicara pada konferensi pers hari Senin (26/10), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian meminta Amerika Serikat untuk berhenti menjual senjata ke Taiwan dan memutuskan hubungan militer dengan pemerintah di Taipei.

“Kami akan terus mengambil tindakan yang diperlukan untuk menjaga kedaulatan nasional dan kepentingan keamanan,” kata Zhao dilansir dari CNN, Selasa (27/10).

Dia menegaskan kembali bahwa penjualan senjata AS ke Taiwan “secara serius melanggar” prinsip satu-China dan merugikan kepentingan keamanan Tiongkok.

Satu China sendiri merupakan slogan yang selalu digaungkan negeri tersebut atas Taiwan, memiliki makna meski pulau itu memiliki pemerintahan sendiri tetapi tetap bagian dari Tiongkok.

Namun tidak dijelaskan secara rinci dalam bentuk apa sanksi tersebut. Zhao hanya mengatakan sanksi itu akan berlaku untuk “individu dan entitas AS yang relevan yang memainkan peran negatif dalam penjualan senjata.”

Sementara itu, pihak Boeing mengatakan masalah itu harus diselesaikan oleh pemerintah Amerika Serikat, sebab mereka yang melakukan negosiasi.

“Pemerintah AS memutuskan sistem pertahanan mana yang akan diberikan kepada Taiwan dan kemudian membuat pengaturan dengan Departemen Pertahanan untuk penyediaan peralatan tersebut,” kata kata Juru Bicara Boeing.

“Penjualan militer asing ke negara atau entitas mana pun merupakan kewajiban kontrak langsung antara pembeli dan pemerintah / Departemen Pertahanan AS,” ujarnya.

Lockheed Martin mengatakan penjualan militer kepada asing adalah “transaksi antar pemerintah”.

“Lockheed Martin mematuhi kebijakan pemerintah Amerika Serikat sehubungan dengan menjalankan bisnis dengan pemerintah asing. Kami berbisnis dengan lebih dari 70 negara di seluruh dunia, dan semua penjualan internasional kami diatur secara ketat oleh pemerintah AS,” ujar seorang Juru Bicara Lockhed Martin.

Raytheon belum memberikan tanggapan terkait sanksi yang akan dijatuhkan oleh China kepada perusahaannya.

Ancaman sanksi China pada sejumlah perusahaan Negeri Paman Sam hanyalah eskalasi terbaru dalam meningkatnya ketegangan antara kedua negara terkait Taiwan.

AS-China sudah terjebak dalam berbagai permasalahan lainnya, mulai dari soal kemanusiaan, perdagangan, hingga pertahanan.

Melansir AFP, ancaman China yang paling baru ini muncul setelah Departemen Luar Negeri AS pada pekan lalu telah menyetujui penjualan 135 rudal udara-ke-darat ke Taiwan.

Juga disetujui adalah penjualan enam pod pengintai udara MS-110 dan 11 peluncur roket ringan M142, yang menjadikan nilai tiga paket senjata menjadi $1,8 miliar.

 

 

Editor : Parna

Sumber : cnnindonesia