Salah satu lokasi gelper yang dekat dengan pemukiman penduduk di Batam Center.
Gelanggang permainan atau yang biasa disebut dengan gelper kini kian marak beroperasi di Batam. Selain sangat meresahkan, game atau permainan elektronik yang ini ternyata sama sekali tidak memiliki izin dari pemerintah.
Bukan itu saja, yang lebih menarik lagi ternyata lokasi gelper yang berbau judi yang seharusnya jauh dari pemukiman penduduk ini, kini tumbuh subur di dekat-dekat komplek perumahan dan sekolah.
Kehadiran gelper-gelper ini bukan tidak mungkin bisa merusak moral generasi muda, terutama mereka yang tinggal dekat-dekat lokasi. Bahkan dikhawatirkan berpotensi menciptakan kenakalan remaja dan anak-anak.
”Ini (gelper) dekat pemukiman sangat mengkhawatirkan dan bisa membuat ketagihan,” ujar Ketua Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri, Erry Syahrial, beberapa waktu lalu.
”Janganlah dekat kawasan perumahan, tidak baik untuk generasi kita,” tambah mantan wartawan ini.
Menurut Erry, pemerintah dalam memberikan izin-izin gelper seperti ini harusnya selektif dan peka terhadap lingkungan, terutama yang dekat dengan sekolah. ”Izinnya dievaluasi lagi, bila perlu (dekat pemukiman dan sekolah) dicabut,” ucapnya.
Untuk lokasi gelper yang kian marak ini bisa kita lihat di bilangan Batam Center, seperti perumahan Dotamana dan Botania.
Dinas Penanaman Modal Perizinan Terpadu dalam Satu Pintu (DPM PTSP) Kota Batam memastikan beberapa lokasi gelper tersebut sama sekali tidak memiliki izin. Dan sejauh ini, menurut pegawai DPM PTSP yang enggan disebutkan namanya ini, sebenarnya mereka belum ada mengeluarkan izin baru sejak adanya kesepakatan terdahulu.
Terbaru, pemerintah saat ini gencar mensosialisasikan protokol kesehatan guna memutus mata rantai penyebaran virus Corona atau Covid-19. Namun, dari pantauan di lokasi gelper, ternyata masih banyak pemain yang sama sekali tidak menggunakan masker dan menjaga jarak yang sesuai.
Situasi seperti ini juga pernah terlihat di arena gelper Lucky Zone, Top 100 Tembesi, Batuaji.
Guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19 ini, dalam beberapa hari ini pemerintah yang tergabung dalam Tim Gugus Tugas Covid-19 sudah melakukan sidak sekaligus sosialisasi. Namun pada prakteknya, himbauan tersebut kurang diindahkan, terutama jenis permainan atau game yang banyak digemari seperti Mahkota dan Ikan. Seluruh pemain duduk sangat berdekatan dan tidak sesuai anjuran protokol kesehatan.
Situasi ini tentu saja sangat berbahaya dan dipercaya akan menciptakan klaster-klaster baru dalam penyebaran virus Covid-19.
Sampai saat ini, belum ada komentar dari pihak kepolisian. Perjudian berkedok gelanggang permainan ini sepertinya terkesan kebal hukum dan beberapa lokasi bahkan diduga ada yang membekingi.
Editor : Parna