Hong Kong¬†–¬† Aktivis pro-demokrasi Hong Kong Joshua Wong menceritakan ketakutannya akan penangkapan setelah penerapan Undang-undang Keamanan Baru di Hong Kong. Wong mengungkap cerita itu dalam penampilan virtualnya di festival buku Inggris.

Seperti dilansir AFP, Senin (24/8/2020) aktivis berusia 23 tahun itu mengatakan bahwa partisipasinya dalam acara tersebut mungkin membuatnya berisiko, tetapi itu adalah tugasnya untuk terus berbicara tentang pengetatan cengkeraman China di kota semi-otonom itu.

Wong mengatakan bahwa dua jam sebelum tampil di Edinburgh International Book Festival, dia dibuntuti oleh mobil tak dikenal dengan lisensi China-Hong Kong.

Saat mengunjungi Victoria Peak di Hong Kong dengan teman-temannya, dia mengatakan bahwa dia difoto dan dilecehkan secara verbal oleh “geng pro-Beijing”.

“Itu taktik umum yang mereka gunakan untuk membidik aktivis pro demokrasi,” katanya, Minggu (23/8).

Wong mengatakan harga yang dia bayarkan dalam pengawasan “relatif kecil” dibandingkan dengan pengunjuk rasa yang ditembak dengan peluru tajam selama demonstrasi tahun lalu.

Namun, dia mengatakan sulit untuk merencanakan masa depan di bawah ancaman UU Keamanan Nasional yang diberlakukan China di Hong Kong pada bulan Juni lalu.

Dia mengatakan itu “sudah menjadi keajaiban” bahwa dia masih bebas berbicara di acara internasional semacam itu.

“Setiap hari saya tidur, saya juga khawatir pemerintah akan datang menangkap saya segera, atau lusa, menyerbu rumah saya pada pukul 5 pagi seperti yang dialami Jimmy Lai,” tuturnya.

Maestro media, Lai termasuk di antara 10 orang yang ditahan berdasarkan UU tersebut awal bulan ini, dan ruang berita Apple Daily miliknya digeledah.

Sementara itu, aktivis terkemuka Agnes Chow, yang seperti Wong adalah tokoh kunci dalam “Gerakan Payung”, juga ditangkap. Keduanya dibebaskan dengan jaminan.

Wong mengatakan gerakan pro-demokrasi hanya meminta otonomi yang dijanjikan China kepada Hong Kong ketika diserahkan kembali dari Inggris pada 1997.

“Kami tidak meminta sesuatu yang berlebihan,” katanya dalam wawancara yang dilakukan oleh Sophie Richardson, direktur Human Rights Watch China.

Wong mengatakan dia melihat “tidak ada kesempatan” bagi Hong Kong untuk mengadakan pemilihan bebas di bawah Presiden China Xi Jinping. Tetapi dia mengatakan para aktivis harus terus maju dan bahwa dia masih memiliki harapan pada rakyat Hong Kong.

“Hong Kong bukan lagi Hong Kong, tapi dengan semangat warga Hong Kong kami masih terus maju dalam perjuangan berat ini,” ujarnya.

Editor : Aron

Sumber : detik