Industri perbankan dihadapkan dengan sejumlah kerentanan selama pandemi COVID-19. Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS Didik Madiyono mengatakan, kualitas kredit hingga ketahanan likuditas menjadi permasalahan utama bagi perbankan saat ini.

“Industri jasa keuangan tidak sepenuhnya kebal terhadap pemburukan. Sumber kerentanan, kualitas kredit bisa memburuk cepat jika pandemi berkepanjangan atau recovery lambat,” ungkap Didik dalam webinar Infobank, Selasa (23/6).

Sumber kerentanan lainnya yakni daya tahan likuiditas perbankan yang berbeda-beda antara satu bank dengan bank lainnya. Kondisi likuiditas perbankan untuk jangka pendek memang dinilai masih relatif stabil. Namun, hal ini harus diwaspadai sebab risiko likuiditas mulai menujukkan tendesi peningkatan.

Risiko likuiditas ini bersumber dari menurunnya penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) dan arus kas atau cash in flow. Memburuknya kualitas aset dan likuiditas dikhawatirkan dapat mempengaruhi rentabilitas, dari sisi pendanaan, pendapatan maupun biaya.

Didik Madiyono

Di satu sisi, rendahnya pertumbuhan kredit akan berpengaruh pada pendapatan bunga bank. Kondisi kerentanan ini pun berbeda-beda antara satu bank dengan yang lainnya.

“Secara individual dampak dari kondisi pemburukan ekonomi sangat bervariasi dan berbeda tergantung pada daya tahan masing-masing bank,” ujarnya.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per April 2020, rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) atau Capital Adequacy Ratio (CAR) industri perbankan berada pada level 22,03 persen.

Sementara itu, rasio kinerja keuangan lainnya yakni return on asset (ROA) tercatat sebesar 2,31 persen. Sedangkan Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) sebesar 84,84 persen. Kemudian net interest margin (NIM) di kisaran 4,49 persen dan rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) di kisaran 2,89 persen.

Editor: PARNA
Sumber: kumparan