JAKARTA – Pejabat WHO baru-baru ini mengatakan penyebaran tanpa gejala tampaknya jarang terjadi. Hal ini membuat banyak orang menanyakan kebenarannya karena para dokter dan ilmuwan selama ini mengatakan pernyataan sebaliknya.
Dr Fauci pun ikut mengomentari kontroversi pernyataan salah satu pejabat WHO. Ia mengatakan komentar itu tidak benar. Ahli penyakit menular di Amerika Serikat (AS) ini menegaskan virus Corona ibarat mimpi buruk.

“Bukti menunjukkan bahwa 25 persen hingga 45 persen orang yang terinfeksi Corona kemungkinan tidak memiliki gejala,” jelas Dr Fauci pada ABC, Rabu (9/6/2020).

“Dan kita tahu dari studi epidemiologi mereka dapat menularkan kepada seseorang yang tidak terinfeksi bahkan ketika mereka tanpa gejala,” kata Dr Fauci, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular.

“Jadi membuat pernyataan untuk mengatakan bahwa itu adalah peristiwa langka itu tidak benar. Dan sementara masyarakat mungkin menggunakan kata asimtomatik untuk menggambarkan orang yang terinfeksi yang tidak memiliki gejala (asimtomatik) kekhawatiran yang lebih besar juga berasal dari penularan pasien Corona pra-gejala (presimtomatik),” sebut Fauci.

Lalu apa bedanya asimtomatik dan presimtomatik?

Hingga saat ini penyebaran virus Corona COVID-19 tidak dapat diprediksi dan sulit dikendalikan. Ditambah lagi orang tanpa gejala (OTG) bisa dengan mudah menularkan virus Corona COVID-19 pada seseorang.

Namun sebenarnya ada perbedaan antara asimtomatik dan presimtomatik. Berikut penjelasannya dikutip dari CNN International.

Penyebaran asimtomatik

Penyebaran tanpa gejala adalah penularan virus dari orang yang tidak memiliki gejala dan tidak timbul gejala saat terinfeksi Corona. Tetapi mereka masih bisa menularkan virus Corona kepada orang lain.

Penyebaran presimtomatik

Penyebaran pra-gejala adalah penularan virus oleh orang-orang yang tidak terlihat sakit atau merasa sakit, tetapi pada akhirnya akan timbul gejala. Mereka juga dapat menginfeksi orang lain tanpa menyadarinya.

Editor: PARNA
Sumber: detikhealth