JAKARTA – Pandemi COVID-19 di Indonesia belum berakhir. Berbagai upaya untuk melawan COVID-19 juga sudah dilakukan, mulai penerapan perilaku hidup bersih, kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang meminta masyarakat tetap di rumah, hingga larangan mudik.
Untuk melawan pandemi ini, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 mengajak masyarakat bersama-sama melakukan Gerakan Kurva Landai. Pakar Tim Gugus Tugas COVID-19 Wiku Bakti Bawono Adi Sasmito mengatakan kurva Corona bisa landai bila penularannya diputus dengan cara bersama-sama menerapkan perilaku sehat.

“Salah satu caranya untuk melandaikan kurva adalah memastikan bahwa kita tidak menularkan dan orang lain tidak menularkan kepada kita. Caranya adalah mengubah perilaku, jaga jarak, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menggunakan masker, dan menjaga imunitas tetap tinggi,” ujar Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan akun YouTube BNPB, Sabtu (9/5/2020).

“Itu adalah gerakan bersama-sama seluruh masyarakat di Indonesia. Kalau kita semua melakukan hal yang sama, virus itu tidak akan mampu menulari antarmanusia yang ada di kita. Itulah gerakan yang harus kita lakukan,” sambungnya.

Wiku menjelaskan, berdasarkan data yang ada, usia 45 tahun hingga di atas 60 tahun merupakan yang paling rentan positif COVID-19. Selain itu, data menunjukkan laki-laki menjadi orang yang paling banyak positif COVID-19 di Indonesia.

“Yang harus dilakukan tentunya kita harus melindungi orang-orang yang berusia kelompok usia tersebut, usia lanjut,” ucapnya.

“Kalau kita lihat, ternyata sekitar 60 persen itu yang positif adalah berjenis laki-laki. Laki-laki lebih rentan,” sambungnya.

Selain usia lanjut, faktor orang rentan terkena COVID-19 karena memiliki penyakit penyerta, seperti darah tinggi, diabetes melitus, jantung, dan penyakit paru obstruksi kronis (PPOK). Menurutnya, kebanyakan orang yang positif COVID-19 memiliki penyakit bawaan tersebut.

“Kasusnya yang positif ini kebanyakan adalah orang-orang yang memiliki tekanan darah tinggi yang kemudian diabetes, diabetes melitus ya Jadi itu kita bisa lihat di sini kemudian penyakit jantung kemudian yang keempat adalah penyakit paru obstruksi kronis (PPOK),” katanya.

Wiku meminta kepada masyarakat yang memiliki keluarga dengan penyakit penyerta tersebut untuk bersama-sama melindunginya, sehingga mereka tidak tertular virus Corona.

“Jadi saudara sekalian yang memiliki penyakit penyerta itu harus betul-betul berhati-hati untuk tidak kena dan anggota masyarakat lainnya juga harus melindungi masyarakat yang punya penyakit penyerta ini,” tandasnya.

Dia juga meminta masyarakat waspada dan mengambil langkah-langkah cepat soal kesehatan diri. Dia mengatakan gejala positif Corona mayoritas ditandai dengan batuk.

“Kalau kita lihat dari gejala positifnya yang ada kita bisa lihat ternyata gejala yang paling sering muncul adalah batuk. Jadi tuh kan paling mudah kita bisa melihat dari batuk dan terlihat persentasenya batuk itu yang paling tinggi,” ujar Wiku.

Editor: PARNA
Sumber: detiknews