Ilmuwan membuat sebuah temuan baru terkait virus corona novel (2019-nCoV). Berdasarkan hasil tes terhadap pengidap novel coronavirus, ternyata virus tidak hanya terdeteksi pada partikel batuk dan bersin saja, tapi juga sampel tinja pasien.

Ini berarti, virus corona novel sangat mungkin menyebar melalui feses yang terkontaminasi, seperti dilaporkan Shenzhen Third People’s Hospital.

Temuan ini mendukung hasil penelitian yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine. Dipaparkan dalam jurnal tersebut, virus corona asal Wuhan terdeteksi pada tinja pasien pertama di Amerika Serikat. Pasien itu berusia 35 tahun dan dirawat di Providence Regional Medical Center Everett, Washington.

“Temuan itu menambah pengetahuan tentang ini (virus corona novel),” ujar Scott Lindquist, ahli epidemiologi di Departemen Kesehatan Washington, dilansir Bloomberg. “Virus tidak hanya diekskresikan dalam cairan pernapasan, tapi juga diekskresikan dalam fesesmu.”

Ilustrasi virus Corona

Sejauh ini, belum ada satupun laporan kasus di China sebagai pusat wabah yang menunjukkan feses pasien dapat menjadi media penyebaran virus. Namun sebenarnya, temuan terbaru ini bukan sesuatu yang mengejutkan di kalangan ilmuwan, baik yang telah mempelajari novel coronavirus maupun dokter yang menangani wabah SARS pada 2002-2003.

Apalagi, tercatat sekitar 10 hingga 20 persen pasien SARS mengalami diare. Menurut Fang Li, profesor di Minnesota University, SARS, dan virus corona Wuhan mengikat reseptor protein yang sama dalam tubuh pasien, khususnya di paru-paru dan usus. Karena itu, kedua organ ini adalah target utama virus.

Penemuan baru ini dianggap sebagai sebuah pencerahan. Fakta bahwa virus masih hidup dalam feses pasien bisa menyambungkan mata rantai yang hilang tentang bagaimana virus menular antarmanusia. Terlebih lagi, petugas medis dapat menambah aspek pendeteksian virus di saluran pencernaan, serta lebih hati-hati dalam membuang feses pasien.

Menginjak bulan kedua sejak pertama kali merebak di kota Wuhan, China, novel coronavirus telah merenggut 304 nyawa dan menginfeksi 14.551 pasien di seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan status keadaan darurat kesehatan global untuk wabah novel coronavirus.

Berbagai negara mencoba sejumlah pengobatan dan terapi untuk pasien yang positif terinfeksi virus corona. Beijing, misalnya, menggunakan dua obat anti-HIV yakni Lopinavir dan Ritonavir. Langkah serupa juga diambil oleh Thailand. Sedangkan Amerika Serikat memakai obat remdesivir. Sebenarnya, obat ini tengah diujicoba untuk memerangi virus ebola.

Editor: PARNA
Sumber: kumparan