PTR, Raker Komisi III dan Jaksa Agung

Kasus pembunuhan begal yang dilakukan seorang pelajar (ZA) demi melindungi sang pacar diangkat dalam rapat kerja Komisi III dengan Kejaksaan Agung, Senin (20/1). Dalam kasus ini, ZA didakwa hukuman penjara seumur hidup.

Pertanyaan kasus itu disampaikan oleh Muhammad Syafi’i dari Fraksi Gerindra.

“Kasus yang lagi viral, anak muda yang mau dibegal diancam hukuman seumur hidup, saya kira ini dahsyat sekali. Mungkin itu saja,” kata Syafi’i di Ruang Rapat komisi III, Senayan, Jakarta, Senin (20/1).

Jaksa Agung ST Burhanuddin lalu menjawab, dia menjelaskan, bahwa tak ada keinginan dari begal untuk memperkosa kekasih ZA.

“Untuk perkara begal anak-anak di Malang dan kalau nanti berkasnya secara penuh, sebenarnya tidak ada keinginan dari begal itu untuk memperkosa,” kata Jaksa Agung.

Seperti diberitakan sebelumnya, pelajar ZA mengaku seorang begal bernama Misnan meminta agar ZA menyerahkan teman wanitanya untuk diperkosa begal. Tak terima, ZA mengambil pisau di jok motornya dan menusuk Misna yang kemudian tewas. ZA mengaku pisau itu merupakan peralatan untuk kegiatan prakarya di sekolah.

Sementara Jaksa Agung menyebut, pisau tersebut digunakan membela diri dari ancaman begal, tapi dalam kondisi ‘tidak terpaksa penuh’.

“Kemudian si anak-anak ini (ZA), itu sudah membawa senjata tajam dan itu yang digunakan oleh si anak itu walaupun untuk membela diri, dan itu membela diri dalam keadaan tidak terpaksa penuh,” papar Burhanuddin.

Hukuman Setengah Orang Dewasa
ZA dijerat 4 pasal berlapis oleh jaksa, namun jaksa menyangkal mendakwa dengan hukuman seumur hidup.

“Dalam dakwaan yang tersebar di media bahwa ZA akan didakwa (hukuman) seumur hidup, itu saya pastikan tidak ada,” jelas Sobrani Binzar, Kepala Seksi Tindak Pidana Umum Kejaksaan Negeri Kabupaten Malang, dalam jumpa pers, Senin (20/1).

Hal ini dijelaskan Sobrani karena yang sedang berhadapan dengan hukum ini adalah anak. “Dalam sistem ancaman hukum untuk peradilan anak ini adalah setengah dari dewasa,” lanjutnya.

Sobrani menjelaskan, ZA dijerat 4 pasal berlapis yaitu dakwaan utama pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana, pasal 338 tentang pembunuhan dengan, pasal 351 tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian, dan undang-undang darurat tentang membawa senjata tajam.

Editor: PARNA
Sumber: kumparan