NATUNA

Natuna di Kepulauan Riau tengah ramai dibicarakan di tengah konflik antara China dan Indonesia yang memanas. Sebelumnya, mari kita kenal pulau yang satu ini.

Masuknya sejumlah kapal nelayan hingga Cost Guard China ke perairan Natuna di Kepulauan Riau, Indonesia, berbuntut ketegangan antar kedua negara. China melalui Jubir Kemlu mereka mengklaim, bahwa perairan Natuna adalah milik mereka merujuk pada sembilan garis batas transparan (nine dash line).

Untuk informasi, nine dash line merupakan garis yang dibuat sepihak oleh China tanpa melalui konvensi hukum laut di bawah PBB atau UNCLOS

Namun, Indonesia sudah menegaskan klaim China bertentangan dengan hukum internasional yang sah. Hanya saja China tetap menganggap perairan Laut Natuna bagian dari negaranya.

Padahal, menurut Konvensi United Nations Convention on The Law of The Sea (UNCLOS) 1982, perairan Natuna masuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.

 

Terlepas dari konflik kepentingan tersebut, Natuna yang menjadi salah satu tapal batas di Utara Indonesia menyimpan banyak potensi alam hingga wisata. Bahkan dalam periode pemerintahan terdahulu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti diketahui kerap bermain paddle di sela kesibukannya di sana.

Kembali ke Natuna, pulau yang satu ini Natuna memang menyimpan beragam potensi hasil laut, mulai dari cumi-cumi, lobster, kepiting, hingga rajungan sehingga terlihat menarik oleh negara tetangga. Hanya yang tak kalah menarik, ternyata Natuna juga menyimpan ‘harta karun.’

Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) yang dikutip, Senin (6/1/2020), total produksi minyak dari blok-blok yang berada di Natuna adalah 25.447 barel per hari. Wilayah ini juga punya blok gas raksasa terbesar di Indonesia yaitu blok East Natuna yang sudah ditemukan sejak 1973.

Itu baru harta karun energi. Rumornya, Pulau Laut yang berada paling terdepan di Utara Natuna juga menyimpan kisah emas miliki warga Vietnama yang terkubur.

Pulau Laut ini luasnya sekitar 37 Km2 yang paling ujung berbatasan langsung Laut Utara Natuna. Air lautnya cukup ganas terutama saat angin Utara. Pulau ini hanya bisa dijangkau dengan kapal dari Kota Ranai, Ibu Kota Natuna sekitar 4-6 jam. detikcom pun pernah mengunjungi beberapa waktu lalu.

Di pulau inilah tersimpan misteri harta karun emas. Mengapa? Kisah harta karun emas ini masih terkait kisah panjang perang saudara di Vietnam tahun 1980-an. Kala itu, perang saudara membuat masyarakatnya harus mengungsi ke Indonesia.

Jarak terdekat dari garis pantai Vitenam adalah Pulau Laut, hanya butuh waktu sekitar 7 hingga 9 jam dengan pompong. Di sinilah kisah awal tersimpannya harta karun berbentuk emas di pulau itu.

Ada ribuan pengungsi terdampar mencari suaka politik ke Indonesia. Pulau Laut salah satu tempat mereka bersandar dengan kapal-kapal kecil. Pengungsi terombang-ambing berhari-hari di laut akhirnya terdampar di wilayah Indonesia. Warga Vietnam ini dibantu masyarakat Pulau Laut untuk mendarat, sesuai pengakuan Ketua Lembaga Adat Kepri Kecamatan Pulau Laut, Kasih (72).

Dalam pelariannya, warga Vietnam ini banyak yang membawa emas sebagai perbekalan. Hanya harta emas yang bisa mereka bawa untuk menyelamatkan hartanya. Keberadaan emas itu pun terendus oleh masyarakat, ketika masyarakat Vietnam menggunakan emas sebagai alat tukar dengan kebutuhan primer seperti makanan dan lainnya. Itulah asal muasal dari cerita misteri emas di Pulau Laut.

Senja di Pulau Laut

Di luar kekayaan energi dan emas milik bekas masyarakat Vietnam, keindahan alam Natuna dari darat hingga bawah lautnya juga begitu penting bagi sektor pariwisata. Hanya harus diketahui, Natuna hanya dapat dicapai via pesawat perintis atau kapal popong dengan berjam-jam perjalanan laut yang berombak.

Editor: PARNA
Sumber: detiktravel