“Mana yang duluan? Ayam atau telur, sih?”

Pertanyaan simple seperti itu mungkin pernah pembaca dengar lalu membuat pembaca menjadi kepikiran dan bertanya tanya.

“Kalau ayam menetas dari telur, telurnya datang dari mana? Berarti harus ada ayam sebelumnya dong yang menetaskan telur itu? Tapi ayam itu pasti menetas dari telur juga, kan? Jadi mana yang duluan, sih? Ayam atau telur?”

Sekilas pertanyaan ini memang terkesan sepele dan gak penting, tapi sebetulnya proses untuk menjawabnya pertanyaan ini, kita perlu menggali pengetahuan sains yang cukup mendalam. Sebetulnya ada pesan tersirat yang amat penting dari pertanyaan ini.

Bagi filsuf kuno, pertanyaan ini adalah pertanyaan filosofis yang sangat dalam tentang teka-teki darimana datangnya jagat raya ini. Jika segala yang mereka lihat ini terjadi dari proses materi yang terjadi sebelumnya, lalu bagaimana dengan proses yang terjadi sebelumnya, dan sebelumnya, dan seterusnya.

Maka, dalam artikel kumparan kali ini, Zenius akan mencoba untuk menjawab dan membahas pertanyaan ini.

Sebenarnya, ada sebuah penelitian pada tahun 2010 yang menunjukkan bahwa protein yang esensial untuk pembentukan cangkang telur ayam (ovocleidin-17) hanya eksklusif ditemukan di ovarium ayam. Protein ini dibutuhkan untuk pembentukan cangkang telur ayam. Tanpa protein ini, cangkang telur tidak bisa dibentuk. Jadi, secara teknis, tanpa ada ayam, kita tidak bisa punya telur ayam. Sampai di sini, sekilas jawaban dari teka-teki ini yaitu ayam.

Tapi ternyata jawabannya tidak segampang itu, dan tentu tidak berhenti sampai situ. Pasti akan timbul lagi pertanyaan baru.

“Lalu, Protein ovocleidin-17 harus datang dari sesuatu dong. Tapi dari mana? Si ayam pertama yang menghasilkan protein ovocleidin-17 datang dari mana?”

Nah, untuk pertanyaan yang satu ini, teori evolusi hadir untuk memberikan perspektif yang betul-betul mencerahkan.

Secara sederhana, teori evolusi itu bisa dirumuskan seperti ini

EVOLUSI = SELEKSI ALAM + MUTASI

Dalam proses reproduksi, ketika dua organisme melakukan perkawinan, mereka akan menurunkan informasi genetiknya dalam bentuk DNA. Sel sperma bertemu dengan sel telur, lalu fertilisasi terjadi, dan terbentuklah zigot. Zigot ini mengandung kombinasi genetik kedua induknya. Zigot kemudian terus membelah (secara mitosis). Selama pembelahan terjadi, DNA melakukan replikasi.

Ayam sebagai suatu spesies, menjadi ayam modern yang kita kenal sekarang melalui proses evolusi yang panjang, lambat, dan bertahap.

Sebetulnya mutasi yang terjadi pada satu garis generasi mungkin tidak akan kentara keliatan perubahannya. Namun, bayangkan hal ini terjadi selama ribuan generasi. Mutasi DNA minor selama ribuan generasi akhirnya “cukup” untuk menciptakan spesies baru. Ayam pertama yang menghasilkan protein ovocleidin-17 adalah hasil mutasi dari spesies ayam sebelumnya.

Bagaimana evolusi bisa menjelaskan teka-teki ayam atau telur?

Berjuta tahun lalu, ada spesies yang nantinya akan berevolusi jadi ayam (moyang ayam), supaya gampang kita sebut saja Proto-Ayam. Dalam jangka waktu yang lama, Proto-Ayam berkembang biak dan menghasilkan populasi spesies Proto-Ayam sebagaimana spesies lain yang kita lihat zaman sekarang. Proses itu berjalan berkesinambungan sampai suatu ketika mutasi terjadi, dan mutasi itu kembali tereplika terus dalam proses yang lama dan bertahap.

Nah, karena adanya akumulasi dari mutasi genetik selama ribuan generasi, akhirnya perkawinan sesama Proto-Ayam menghasilkan telur yang mengandung spesies yang kita sebut “ayam” untuk pertama kalinya. Spesies ayam pertama inilah yang bisa kita katakan secara saintifik sebagai spesies yang menetaskan telur ayam untuk pertama kalinya.

Secara definitif, spesies pertama yang menghasilkan protein ovocleidin-17 belum bisa kita sebut “Ayam”, tapi masih “Proto-Ayam”. Sedangkan spesies pertama yang lahir dari telur yang mengandung protein ovocleidin-17 baru kita bisa sebut sebagai ayam.

Jadi sudah jelas ya, apabila pembaca menemukan pertanyaan duluan ayam atau telur? Pembaca dapat menjawab, duluan telur dong!

Nah, begitulah penjabaran singkat mengenai ayam atau telur, Apabila pembaca ingin membaca full article nya di Zenius blog, pembaca dapat mengunjungi tautan berikut.

Editor: PARNA
Sumber: kumparan