Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa kian memanas. Perang dagang kedua negara itu bahkan dinilai akan merembet ke ekonomi global.
Hal itu bermula ketika Presiden Trump berencana mengenakan tarif impor produk Uni Eropa senilai USD 7,5 miliar atau sekitar Rp 106 triliun (kurs Rp 14.137 per dolar AS) mulai 18 Oktober mendatang. Produk yang akan dikenakan tarif pun beragam, seperti keju, anggur, hingga pesawat terbang.
Dilansir ABC News, Sabtu (5/10), Uni Eropa juga akan membalas tindakan AS tersebut. Hal ini membuat khawatir sejumlah pihak, karena salah satunya dapat berdampak pada tingginya pajak mobil Eropa di AS.
“Langkah ini memicu kekhawatiran akan putaran baru peningkatan perang tarif,” ujar Alex Kuptsikevich, analis keuangan dengan broker FxPro.
“Pengenaan tarif dan kekhawatiran dapat semakin menekan sentimen bisnis yang sudah berada di level terendah selama bertahun-tahun ini,” katanya.
Trump juga berencana memungut tarif dari Airbus. Pesawat besutan Uni Eropa ini rencananya akan dikenakan tarif masuk ke AS sebesar 10 persen.
Sementara produk lainnya seperti zaitun, anggur, keju, dan yogurt akan dikenakan tarif hingga 25 persen.
Trump menyatakan, memiliki wewenang untuk menaikkan tarif kapan pun ia mau. Perang dagang AS tersebut dilakukan setelah Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) memberikan lampu hijau kepada AS untuk menerapkan pajak impor kepada Uni Eropa, dalam kasus yang melibatkan subsidi ilegal untuk pesawat Airbus agar mampu bersaing dengan Boeing.
Uni Eropa pun menyatakan kasus serupa terkait subsidi yang dilakukan AS untuk Boeing dapat menjadi pegangan untuk pembalasan.
“Jika AS melakukan tindakan balasan, itu akan mendorong Uni Eropa ke dalam situasi di mana kita harus melakukan hal yang sama,” kata juru bicara Komisi Eropa Daniel Rosario.
Sementara itu, Bob Bauer, presiden Asosiasi Industri Makanan di New Jersey, yang mewakili sekitar 1.000 importir dan eksportir makanan di seluruh dunia mengatakan, para anggotanya marah karena makanan menjadi sasaran perselisihan mengenai subsidi pesawat.
“Kami akan membayar sehingga Boeing dan Airbus dapat terus menerima subsidi ini,” kata Bauer.
Senada, Kepala Federasi Industri Makanan dan Minuman Spanyol Mauricio GarcĂ­a de Quevedo mengatakan, tarif AS yang baru akan mempersulit perusahaan yang diwakilinya untuk bersaing secara internasional. Dan itu akan berkontribusi pada hilangnya sejumlah pekerjaan.
AS adalah klien makanan dan minuman terbesar kedua Spanyol. Laju ekspor makanan dan minuman ke AS mencapai USD 1,9 miliar selama tahun lalu.
Editor: PAR
Sumber: kumparan