Ibu punya tugas yang luar biasa, salah satunya memastikan kesehatan keluarga. Mulai dari memastikan menu makanan sehat, hingga memenuhi kebutuhan vitamin keluarga bila diperlukan.
Tak hanya kesehatan tubuh, Anda juga perlu memastikan kesehatan mental diri Anda sendiri, anak dan suami. Ya, kesehatan mental juga tidak kalah penting, Moms!
Ditemui dalam acara Sahabat Ibu Pintar 1st Anniversary: Satu Inspirasi, Jutaan Kreasi yang digelar di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, pada Sabtu (28/9), Nadya Pramesrani selaku Psikolog Keluarga mengatakan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi di mana psikologis emosional dan sosial bisa berjalan dengan baik.
Bila kesehatan mental terganggu, ada beberapa risiko penyakit yang bisa bermunculan. Gangguan kesehatan mental juga bisa membuat Anda dan keluarga tidak fokus menjalani kegiatan sehari-hari.
Tentunya Anda tidak ingin hal ini terjadi pada Anda dan keluarga kan, Moms? Untuk itu yuk simak 7 tips sederhana menjaga kesehatan mental keluarga dari Nadya Pramesrani, sebagai berikut:
1. Bersosialisasi
Langkah paling awal adalah bersosialisasi. Ya Moms, sebagai makhluk sosial, Anda pasti butuh berinteraksi dengan orang lain. Entah untuk berdiskusi suatu masalah, bertukar pikiran, atau sekadar basa-basi menanyakan kabar.
Interaksi pun tak melulu dengan tatap wajah secara langsung. Di zaman yang serba canggih ini sosialisasi juga bisa dilakukan tanpa harus bertemu. “Walaupun kualitas hubungannya berbeda antara ketemu (langsung) dengan digital cuma tujuannya yang penting sosialisasi,” kata Nadya.
2. Berpikir Positif
Disadari atau tidak pikiran dapat mempengaruhi kondisi batin dan tubuh seseorang. Punya banyak beban pikiran atau stres bisa jadi pemicu datangnya berbagai penyakit, seperti pusing atau maag.
Untuk itu, mulai sekarang tularkan kepada anak dan suami tercinta agar terus berpikiran positif. Bila ada masalah, hadapi dengan tenang, jangan ambil pusing dan jalani dengan santai karena semua pasti ada solusinya.
3. Menolong Orang Lain
Kenapa menolong orang lain sangat penting? Begini Moms, dengan menolong orang lain, secara tidak langsung Anda akan merasa senang dan bahagia karena beban orang lain dapat berkurang.
Selain menjadi salah satu cara untuk mencegah terjadinya gangguan mental, menolong orang lain juga mendapat pahala.
4. Punya Kegiatan
Aktif berkegiatan menjadi salah satu cara mencegah gangguan mental. Untuk itu, Anda bisa mengajak suami dan anak untuk ikut ke dalam beragam aktivitas yang diminatinya agar bisa menumbuhkan perasaan senang. Di sisi lain, selain dapat menyalurkan hobi, menjalani aktivitas kegiatan yang disukai juga dapat menambah relasi, Moms.
5. Aktif Bergerak
Buatlah jadwal kapan harus berolahraga dalam sepekan. Ya Moms, aktif bergerak atau olahraga ternyata bisa menurunkan risiko terjadinya gangguan mental. Banyak yang percaya bila tubuh banyak bergerak maka akan mengeluarkan senyawa kimiawi di dalam otak. Alhasil bisa membuat tubuh terasa lebih segar dan bugar.
Biar semakin semangat, Anda bisa berolahraga atau melakukan kegiatan bersama-sama dengan keluarga. Pilih kegiatan yang suami dan anak suka ya Moms, misalnya lari bersama, berkebun, membersihkan rumah, berenang dan lain sebagainya.
6. Istirahat yang Cukup
Meski punya kegiatan baik untuk tubuh, pastikan Anda dan keluarga punya waktu yang cukup untuk istirahat dan bersantai, Moms.
Makin seru lagi jika waktu bersantai dihabiskan bersama keluarga, misalnya menonton film, makan di restoran atau pergi ke kebun binatang dengan anak dan suami. Selain membuat pikiran lebih tenang, menghabiskan waktu bersama keluarga juga dapat mempererat hubungan antara orang tua dan anak, Moms. Jangan lupa juga untuk memberikan asupan makanan dan minuman sehat untuk keluarga.
Makan sehat itu tidak hanya sekadar omongan doang tapi memang benar dapat mempengaruhi metabolisme tubuh. Dengan metabolisme tubuh yang baik, kualitas tidur pun akan baik,” tambah Nadya.
7. Bila Perlu Cari Bantuan
Terakhir, ketika Anda atau anggota keluarga di rumah merasa butuh bantuan tidak ada salahnya untuk mencari tenaga professional, Moms. Jangan menolak dan menganggap semuanya baik-baik saja.
“Kalau bisa diatasi sendiri bagus tapi kalau butuh bantuan cari bantuan,” tambah Nadya.
Anda bisa mencari bantuan psikolog yang terpercaya. Kemudian temui dan cari jalan keluar bersama dengan psikolog yang Anda pilih.
Editor: PAR
Sumber: kumparan