Namanya Luke Matheson. Semalam sebelum ujian psikologi di sekolah, ia mencetak gol ke gawang Manchester United di Old Trafford.
Rumah ‘Setan Merah’ bergemuruh. Bukan hanya karena United lolos ke babak keempat Piala Liga Inggris 2019/20, tetapi karena tempat ini menjadi panggung megah bagi para anak muda membuktikan diri.
Piala Liga Inggris mungkin bukan turnamen incaran para bintang. Namun, yang berlaga di setiap klub bukan cuma para pesohor. Di sana ada anak-anak muda, para youngster yang bukan tidak mungkin harap-harap cemas menerka kapan mereka dipanggil ke tim utama.
Pun demikian dengan mereka yang bertanding untuk klub non-Premier League. Siapa tahu di antara sekian banyak penonton ada pencari bakat, siapa yang menyangka sehabis ini tawaran untuk naik kasta datang.
Mason Greenwood memecah kebuntuan pada menit 68. Hanya karena Rochdale berkompetisi di League Two alias divisi empat, bukan berarti mereka tampil semenjana.
Itu kejutan pertama.
Old Trafford tidak menjadi panggung yang mewujudkan mimpi Greenwood saja. Matheson, bek sayap Rochdale itu, juga turut merasakan.
Catatan statistiknya jauh di bawah Greenwood. Di sepanjang laga ia hanya membuat satu tembakan, sedangkan Greenwood trengginas dengan tujuh percobaan yang empat di antaranya mengarah ke gawang.
Itu belum ditambah dengan kontribusi Greenwood sebagai kreator serangan yang ditandai dengan lima umpan kunci. Catatan itu merupakan yang tertinggi di antara seluruh pemain kedua tim.
Namun, Matheson memikat dengan caranya sendiri. Sepakannya di menit 76 yang tidak dapat dibendung Sergio Romero berujung pada gol penyama kedudukan untuk Rochdale.
Gol itu bahkan menjadikannya sebagai pemain termuda, 16 tahun 358 hari, yang mencetak gol di Piala Liga Inggris sejak Agustus 2009. Ketika itu, Connor Wickham yang memecahkan rekor. Ia mencetak gol untuk Ipswich dalam usia 16 tahun 133 hari.
 
Pada akhirnya United menutup laga pada Kamis (26/9/2019) dengan kemenangan 1-1 (5-3) lewat adu penalti. Terlepas dari hasil akhirnya, Matheson berhasil memperpanjang napas Rochdale di Old Trafford.
Lewat gol penyama kedudukan itu, Matheson memberikan waktu lebih lama kepada kakak-kakaknya untuk menikmati ‘Theatre of Dreams’.
“Saya rasa momen tidak akan terulang. Ingatan tentang hari dan laga ini, juga tentang perasaan yang muncul saat saya berselebrasi di Old Trafford akan saya simpan rapi dalam kepala,” seperti itu terjemahan plastis komentar Matheson dalam wawancara usai laga.
Proses golnya bermula dari umpan silang Oliver Rathbone di kanan pertahanan United. Entah bagaimana detailnya, yang jelas Matheson merangsek masuk ke kotak penalti United. Ia berlari dari sebelah kiri mengalahkan Andreas Pereira yang berusaha mengejar.
 
Begitu sampai di depan gawang, bola itu disepaknya tinggi. Romero runtuh. Pogba yang ada di depan garis gawang terjatuh.
Matheson merayakan gol itu dengan meriah. Begitu bola menyentuh jala gawang, ia berlari, lalu berseluncur sambil berteriak garang. Bek tengah Rochdale, Aaron Morley, bergabung dengannya merayakan gol.
Stadion penuh dengan riuh dan gemuruh. Barangkali yang bersorak bukan hanya pendukung Rochdale, tetapi juga suporter United.
Anak SMA 16 tahun itu sedang menikmati malamnya, jadi mengapa tidak membiarkannya saja?
“Besok saya ada ujian psikologi. Malam ini saya tidak akan tidur, mau begadang buat belajar. Ini tahun pertama saya di SMA, mulainya awal September lalu. Saya mengambil jurusan Psikologi, Sejarah, dan Sosiologi,” ujar Matheson.
“Saya suka belajar karena sepak bola tidak memberikan jaminan apa pun. Kamu bisa jadi pemain terbaik di dunia dan sebaliknya. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di masa depan. Jadi, saya harus pastikan saya punya rencana cadangan,” jelas Matheson.
Ya, begitulah. Tidak ada yang tahu akan jadi seperti apa Matheson nanti. Jawaban teka-teki itu bakal lebih mengejutkan ketimbang gol penyama kedudukan melawan United.
Yang pasti, ia akan segera duduk di kelas. Di sana tidak ada Aaron Wan-Bissaka dan Paul Pogba yang siap menekel.
Di sana tidak ada Ole Gunnar Solskjaer yang bisa saja diam-diam menyusun jadwal untuk datang ke sesi latihan Rochdale. Toh, masih sama-sama di Greater Manchester juga.
Yang ada di depannya adalah soal-soal ujian. Yang mengamatinya dengan seksama adalah para guru.
Untuk sesaat ia akan melupakan malam terang di Old Trafford. Selama dua atau tiga jam ia akan menyimpan rapat-rapat ingatan tentang semengasyikkan apa merayakan gol di Old Trafford.
Untuk beberapa hari ke depan, teman-teman di sekolahnya akan melempar pandang kepadanya sambil berbisik-bisik, “Hei, dia baru mencetak gol ke gawang Manchester United di Old Trafford!”
Editor: PAR
Sumber: kumparan