Bayi alami jaundice atau ‘kuning’? Wah, sebagai orang tua mungkin kita merasa cemas bila si kecil mengalaminya ya, Moms? Padahal, kondisi ini merupakan hal yang biasa dan umum terjadi dalam minggu pertama kehidupan bayi, yaitu pada 48-120 jam setelah bayi lahir. Bahkan, diperkrakan 80% bayi kurang buan mengalaminya. Sementara pada bayi baru lahir sehat dengan usia lebih dari 35 minggu, diperkirakan hingga 60% mengalami kondisi ini.
Meski merupakan hal yang biasa dialami, menangani bayi baru lahir dengan jaundice perlu dilakukan secara hati-hati dan tetap diwaspadai. Sebab meski jarang terjadi, ada juga kondisi kuning yang dapat berkembang menjadi suatu kelainan berat.
Begitu pula soal pemenuhan nutrisinya, Moms. Orang tua perlu tahu mana yang lebih baik untuk diberikan pada bayi yang sedang alami ‘kuning’, susu formula atau ASI?
DR. Dr. Rinawati Rohsiswatmo, SpA (K) dalam buku Breastfeeding Sick Babies yang dikeluarkan oleh Satuan Tugas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga menjelaskan perlunya kita memahami bahwa jaundice atau ‘kuning’ merupakan salah satu tanda bilirubin bayi lebih tinggi dari normal yang biasa disebut hiperbilirubin atau hiperbilurbinemia.
Nah pada kasus hiperbilirubin menurut Dr Rina, ASI merupakan ‘obat’ terbaik, Moms. Oleh karena itu, ASI harus terus diberikan secara teratur kepada bayi.
Saat bayi ‘kuning’, Ibu dianjurkan menyusuinya sesering mungkin atau setidaknya, frekuensi pemberian ASI harus ditingkatkan menjadi lebih dari 10 kali per hari. Hal ini akan merangsang bayi untuk terus-menerus mengisap dan menstimulasi sekresi kolostrum ibu yang berdampak baik bagi bayi.
Tidak hanya itu, ASI dan kolostrum akan membantu bayi lebih mudah buang air besar (BAB), buang air kecil (BAK) dan sekaligus mempercepat pengerualan serum bilirubin dalam tubuh.
Jika bayi tidak dapat disusui secara langsung, barulah pemberian suplementasi dijadikan alternatif. Namun ingat, berikan sesuai dengan tingkat hirarkinya, Moms.
Maksud dari hirarki di sini, pilihlah suplementasi berdasarkan prioritasnya. Jadi bila tidak dapat disusui langsung, beri bayi ASI perah ibunya, kemudian ASI donor yang sudah diskrining dan sudah dipasteurisasi baru yang terakhir susu formula.
Dijelaskan pula oleh Dr Rina, orang tua perlu paham bahwa ada dua jenis hiperbilirubin, yaitu fisiologis dan patologis. Fisiologis maksudnya bayi ‘kuning’ terkait proses adaptasi fisiologis yang memang terjadi segera setelah lahir. Sementara jaundice patologis disebabkan oleh kondisi medis tertentu atau ada sesuatu yang tidak normal.
Itulah sebabnya kondisi ‘kuning’ pada bayi perlu diwaspadai. Observasi yang cermat oleh tim medis juga sangat diperlukan. Tim medis dapat mengawasi kondisi bayi, memastikan penyebab bayi mengalami jaundice, menetapkan tata laksana penanganan jaundice yang tepat sesuai kondisi bayi dan bila perlu memberi intervensi. Jadi selain terus menyusui, bawalah si kecil ke dokter ya, Moms!
Editor: PAR
Sumber: kumparan