Kabul – Korban tewas akibat serangan bom Taliban di rumah sakit di Afghanistan Selatan awal pekan lalu terus bertambah. Pejabat setempat menyatakan korban tewas akibat serangan bom itu menjadi 39 orang.

Dikutip dari AFP Sabtu (21/9/2019), peningkatan jumlah korban dari ledakan itu di kota Qalat di provinsi Zabul pada Kamis. Total orang yang tewas hanya dalam tiga hari kekerasan di seluruh negara yang dilanda perang dalam minggu ini menjadi setidaknya 91 orang.

“Jumlah korban dari serangan rumah sakit di Qalat telah melonjak menjadi 39 tewas, 140 lainnya cedera,” kata juru bicara gubernur provinsi, Gul Islam Seyal.

Sebelumnya, otoritas setempat mengatakan ledakan itu menewaskan 20 orang. Sementara pada Jumat, Pejabat lain menyatakan bahwa jumlah korban lebih tinggi yaitu 41.

Gelombang kekerasan dengan korban paling banyak dari warga sipil terjadi setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan pembicaraan dengan Taliban. Hal itu yang bisa membuat Washington mulai menarik pasukan, dan ketika negara itu bersiap untuk pemilihan presiden.

Deklarasi Trump itu ditanggapi para pemberontak bahwa pembicaraan telah ‘mati’ pada awal bulan ini. Mereka berjanji untuk terus berjuang, dan telah bersumpah untuk menargetkan pemilihan 28 September.

Namun mereka juga membiarkan pintu terbuka untuk melanjutkan pembicaraan. Sementara, pihak Gedung Putih mengatakan pembicaraan tidak akan berlanjut jika kekerasan terjadi.

Taliban juga berpendapat bahwa AS telah membunuh orang-orang di Afghanistan. Pertumpahan darah terjadi pada Kamis, dimulai dengan bom Qalat hampir subuh.

Beberapa jam kemudian, muncul laporan tentang serangan udara di bagian timur provinsi Nangarhar. Serangan itu disebut telah menewaskan sedikitnya sembilan warga sipil.

“Pasukan AS melakukan serangan presisi terhadap teroris Da’esh di Nangarhar awal (pada 19 September),” kata juru bicara Pasukan AS-Afghanistan Kolonel Sonny Leggett dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat.

“Kami menyadari dugaan kematian non-kombatan dan bekerja sama dengan pejabat setempat untuk menentukan fakta untuk memastikan ini bukan cara untuk mengalihkan perhatian dari warga sipil yang dibunuh oleh Taliban di sebuah rumah sakit di Zabul sebelumnya,” lanjutnya,

(ibh/gbr)

Editor: PAR
Sumber:  detiknews