Makan malam bersama. (Foto: Thinkstock)
POJOK BATAM.ID – Waktu makan yang terbaik adalah makan saat sudah lapar dan berhenti saat mulai atau bahkan sebelum kenyang.
Kedengarannya memang seperti hal yang sederhana. Namun ada kalanya berhenti makan adalah hal yang sulit, apalagi bila kita dihadapkan dengan banyak pilihan makanan yang terlihat nikmat.
Bila kamu terus makan padahal perut sudah mulai kenyang, berarti yang sedang kamu puaskan sebenarnya bukanlah lapar di perut, melainkan lapar di mata.
Seberapa banyak sebenarnya seseorang harus makan? Hal tersebut bisa berbeda-beda pada setiap individu. Beberapa faktor yang mempengaruhi seberapa banyak makanan yang perlu dikonsumsi setiap individu di antaranya adalah umur, tinggi badan, kegiatan fisik, pola tidur, dan kesehatan.
Makan banyak karena emotional eating (Foto: Shutter Stock)
Apa tanda-tandanya kalau kita sudah terlalu banyak makan?
Salah satu tandanya adalah kita akan merasakan tubuh menjadi panas, padahal kita tidak sedang memakan makanan yang pedas. Menurut Grace Derocha, health coach dari Blue Cross Blue Shield dari Michigan, rasa panas yang muncul saat makan merupakan tanda kita sudah terlalu banyak makan sehingga suhu tubuh meningkat tatkala kita sedang mencerna makanan.
Ciri-ciri lainnya, saat makan kita merasa butuh jeda sebentar sebelum menghabiskan makanan atau bahkan perlu mengendorkan celana karena perut yang membuncit serta terasa tidak nyaman. Terkadang, tanda kita sudah kenyang juga bukan berupa tanda-tanda fisik.
“Kalau sudah muncul rasa ingin menyelesaikan makan dan makanan sudah terasa berat bagi mulut,” kata Derocha kepada INSIDER. “Itu berarti rasa laparmu sudah terpuaskan dan kamu sudah kenyang.”
Perut tidak nyaman merupakan salah satu tanda kita sudah kenyang. (Foto: mohamed_hassan via Pixabay)
Bila tanda-tanda ini sudah muncul namun kamu masih lapar mata dan memaksakan diri untuk makan, maka salah satu efek yang mungkin kamu rasakan adalah gula darah akan meningkat. Akibatnya, kepala akan mulai terasa pusing, timbul rasa haus, sakit kepala, bahkan letargi atau penurunan kesadaran.
Gula darah dan kalori yang berlebihan ini juga akan disimpan di dalam tubuh dan kemudian menyebabkan kenaikan berat badan.
Selain itu, kebanyakan makan juga bisa membuat organ pencernaan membengkak sehingga perut terasa membuncit, tidak nyaman, menyebabkan mual dan pada beberapa orang terjadi kenaikan asam lambung, sebagaimana dipaparkan oleh Robert Glatter, M.D., asisten profesor kedokteran gawat darurat di Lenox Hill Hospital, New York.
Di samping itu, tubuh juga akan membutuhkan banyak waktu untuk mencerna makanan sehingga pola tidur dan fungsi otak akan terganggu.
Sakit kepala. (Foto: Pexels)
“Studi terbaru menunjukkan makan berlebihan atau mengkonsumsi makanan tinggi lemak dan gula dalam waktu yang lama dapat merusak fungsi kognitif,” kata Derocha kepada INSIDER.
“Beberapa temuan (efek dari makan berlebihan) termasuk kehilangan ingatan, gangguan penilaian, dan peningkatan white matter di otak (biasanya terkait dengan orang tua).”
Yoga. (Foto: Thinkstock)
Bila sudah telanjur makan banyak, maka tidak ada cara lain untuk menghindari efek buruknya selain dengan cara olahraga. Olahraga membantu untuk memulai proses metabolisme agar kalori berlebih segera dibakar.
Namun perlu dicatat, olahraga langsung setelah makan banyak tidaklah baik untuk perut. Karena itu, Derocha lebih menyarankan untuk jalan-jalan atau melakukan yoga untuk melancarkan pencernaan. Selain itu, jangan lupa juga untuk minum air putih agar kebutuhan air untuk tubuh tetap terpenuhi.
Editor: PAR
Sumber: Kumparan