Anak, terutama balita, umumnya belum bisa memahami emosi yang ia alami. Akibatnya, ia bisa mengungkapkannya dalam bentuk yang kurang tepat, seperti ledakan emosi yang berlebihan, menangis, atau justru malah marah.
 
Untuk mengatasi hal itu, Anda sebagai orang tua perlu mengajari anak mengenal berbagai emosi sedini mungkin. Dengan mengenal berbagai jenis emosi tersebut, anak sedikit demi sedikit bisa memahami diri mereka sendiri, dan bisa mengekspresikannya dengan benar.
Menurut psikolog keluarga, Aisya Yuhanida Noor, orang tua punya peran penting dalam mengenalkan emosi pada anak. Meski begitu, menurut Aisya, sebelum mengenalkan emosi pada anak, orang tua harus sudah bisa mengenal sekaligus mengelola emosinya sendiri dengan baik.
“Kalau dia enggak sadar emosi yang dia rasain apa, dia masih enggak bisa mereaksi emosinya secara tepat, bagaimana dia ngelatih anaknya bisa sadar emosi dan ngelola emosinya gitu,” katanya saat ditemui di Festival Anak Bertanya di Bandung.
Peran orang tua dalam melatih emosi anak sangat diperlukan karena di sekolah seorang anak lebih banyak belajar kecerdasan kognitif. Padahal, kata dia, yang menentukan kesukesan anak ke depannya tidak hanya kecerdasan kognitif tapi juga kecerdasan emosional.
Melatih emosi anak, menurut Aisya, berarti mengajarkan kepada anak cara mengenali emosinya sendiri sekaligus mengekspresikan emosinya dengan tepat.
“Sementara di sekolah anak-anak lebih banyak dilatih kognitifnya bukan emosinya. Berarti yang perlu melatih emosinya lebih banyak orang tua dalam kesehariannya,” ungkap dia.
Ayah dan ibu punya peran yang sama penting dalam mengenalkan emosi pada anak. Meski begitu, anak biasanya memang akan lebih mencontoh figur yang lebih dekat dengannya.
“Kalau mana yang lebih dominan, biasanya mana yang menjadi figur dominan bagi anak kan ada anak yang biasanya lebih banyak berinteraksi dengan ibu berati peran ibu yang lebih besar tapi mestinya dua-duanya jadi contoh,” ungkap dia.
Meski begitu, Aisya mengakui bahwa kecerdasan secara emosional saja ternyata tidak cukup. Orang tua juga perlu punya pengetahuan yang cukup terkait pengasuhan anak.
“Tapi cerdas emosi saja tidak cukup kalau orang tua tidak punya wawasan pengetahuan pengasuhan yang terus meningkat. Jadi orang tua perlu banyak belajar tentang ilmu pengasuhan,” tutup Aisya.
Editor: PAR
Sumber:  kumparan