Ilustrasi menikmati kopi (Foto: thinkstock)
POJOK BATAM.ID – Kafein bisa dibilang sebagai salah satu alasan utama kita, manusia, mengonsumsi kopi. Zat yang juga ditemukan di teh, cokelat hingga soda ini bisa membuat tubuh kita merasa fokus, senang, dan energetik, bahkan saat kita sedang kurang tidur.
Kafein sebenarnya memiliki efek berbeda-beda bagi tiap spesies. Pada dosis tinggi, kafein dapat menjadi racun yang membunuh serangga, sementara pada dosis rendah, seperti yang biasanya ada pada nektar, kafein dapat membuat mereka mengingat letak bunga tersebut untuk dikunjungi kembali.
Pada manusia, kafein bekerja sebagai stimulan bagi sistem saraf pusat. Zat itu membuat kita tetap terjaga dengan memblokir salah satu molekul yang membuat tubuh mengantuk, yaitu adenosin.
Mengapa manusia mengantuk?
Adenosin sendiri berasal dari sisa-sisa pencernaan molekul ATP, sumber energi bagi metabolisme tubuh. Di otak kita, adenosin dapat dengan mudah diterima karena neuron, sel saraf di otak, memiliki reseptor atau penerima yang dibuat secara khusus untuk menyerap adenosin.
Jadi, ketika adenosin sampai di reseptor, terjadilah suatu reaksi yang membuat neuron bekerja lebih lambat dan memperlambat pergerakan molekul penting di otak. Hal ini membuat kita merasa mengantuk.
Merasa mengantuk terus menerus. (Foto: Thinkstock)
Bagaimana kafein membuat kita tetap terjaga?
Di sinilah kafein yang kita konsumsi memulai perannya untuk membuat kita kehilangan rasa kantuk. Kafein dan adenosin memiliki struktur molekul yang mirip. Hal ini membuat kafein bisa “membajak” reseptor adenosin tanpa membuat mereka aktif.
Jadi kafein membuat tubuh kita aktif dengan membajak reseptor yang seharusnya menerima molekul adenosin tersebut.
BACA JUGA
Benarkah Minum Kopi Setiap Hari Bisa Kurangi Risiko Penyakit Jantung?
Kopi Durian yang Bikin 7 Orang Sakit Ternyata Bercampur Sabu
8 Mitos Seputar Kopi yang Belum Tentu Terbukti Kebenarannya
Kafein bisa membuat kita merasa senang
Salah satu kehebatan dari kafein adalah zat tersebut bisa meningkatkan rasa positif pada diri kita. Jadi, salah satu alasan yang membuat kita merasa senang dan positif adalah molekul dopamin.
Banyak reseptor di neuron yang tak hanya menjadi penerima molekul adenosin. Reseptor dopamin terkadang juga terhubung dengan reseptor adenosin.
Sayangnya, pada reseptor yang saling terhubung ini, jika adenosin telah masuk, maka akan sulit bagi dopamin untuk bisa masuk ke reseptornya.
Bayangkan reseptor tersebut seperti sebuah sofa dan adenosin sebagai seseorang dengan tubuh yang besar. Ketika adenosin duduk, tentu ia akan mengambil banyak ruang dan membuat dopamin tak punya tempat untuk duduk.
Namun ketika kafein menempati tempat dari adenosin, dopamin tetap akan bisa masuk ke reseptornya tanpa ada masalah.
Dikutip dari TED-Ed, ada bukti sejumlah efek positif dari kafein di reseptor adenosin dan dopamin. Efek positif tersebut antara lain mengurangi risiko penyakit parkinson, alzheimer, serta beberapa jenis kanker. Selain itu, kafein juga dapat membantu tubuh membakar lemak.
Minum kopi bisa bakar lemak tubuh (Foto: Thinkstock)
Dampak buruk kafein
Tak semua efek kafein pada tubuh itu positif. Kafein juga dapat meningkatkan detak jantung serta tekanan darah pada tubuh kita.
Selain itu, kafein juga dapat meningkatkan kemungkinan diare dan keinginan buang air kecil serta menyebabkan insomnia dan rasa gelisah.
Jika reseptor adenosin di neuron terlalu sering dibajak oleh kafein, tubuh kita akan menciptakan reseptor baru. Hal ini membuat adenosin tetap bisa bekerja dan memberikan sinyal bagi otak untuk tidur.
Tidur yang cukup (Foto: thinkstock)
Karena itu, sering kali kita merasa perlu mengonsumsi lebih banyak lagi kafein agar bisa tetap terjaga, yakni dengan memblokir lebih banyak lagi reseptor adenosin.
Hal ini jugalah yang membuat kita merasa tidak nyaman saat berhenti menggunakan kafein. Adenosin yang tak lagi dibajak reseptornya dapat membuat simtom seperti sakit kepala, lelah, dan suasana hati yang depresi.
Tapi untungnya, dalam beberapa hari reseptor ekstra akan menghilang dan tubuh akan beradaptasi dengan perubahan tersebut.
Editor: PAR
Sumber: Kumparan