Demonstran Hong Kong Blokir Akses ke BandaraIlustrasi bandara Hong Kong (REUTERS/Thomas Peter)

JAKARTA, POJOK BATAM.ID – Ratusan aktivis pro-demokrasi Hong Kong memblokir beberapa rute ke bandara internasional kawasan itu pada Minggu (1/9). Pemblokiran dilakukan usai kericuhan yang sempat terjadi pada unjuk rasa malam sebelumnya.

Unjuk rasa yang dilakukan di luar bandara Hong Kong ini sengaja dilakukan untuk mengganggu jadwal penerbangan dan menarik perhatian global pada perjuangan mereka.

“Kami berencana mengganggu aktivitas di bandara untuk menarik perhatian apa yang dilakukan pemerintah dan polisi kepada kami,” kata seorang pemrotes berusia 20 tahun, yang minta tidak disebutkan namanya, seperti dikutip Reuters.

“Jika kita mengganggu bandara, lebih banyak orang asing akan membaca berita tentang Hong Kong.”

Mereka menginginkan demokrasi yang lebih luas untuk kota yang diperintah Cina itu. Saat ini Hong Kong tengah menghadapi krisis politik terbesar dalam beberapa dekade belakangan.

Pengunjuk rasa dengan pakaian serba hitam membangun barikade di stasiun bus bandara dan berusaha menghentikan lalu lintas di jalan utama menuju terminal bandara.

Menurut laporan AFP, pengunjuk rasa mengumpulkan alat pemadam kebakaran. Mereka juga menumpuk troli untuk membangun barikade di luar salah satu terminal di bandara internasional Hong Kong. Di samping itu, mereka juga menghancurkan kamera pengintai.

Polisi Hong Kong mengatakan mereka siap untuk meluncurkan “operasi pembubaran”. Lewat sebuah unggahan di Facebook, polisi juga memperingatkan para pemrotes untuk meninggalkan daerah bandara segera.

Sejauh ini, jadwal penerbangan tidak terganggu, tetapi beberapa penumpang dibingungkan oleh pemandangan yang kacau.

“Saya ingin pergi ke bandara untuk mencari saudara perempuan saya, tetapi saya tidak bisa masuk,” kata pembantu rumah tangga Indonesia Samirah kepada AFP.

Bandara tersebut dilindungi oleh aturan yang melarang masuknya pemrotes dan diberlakukan setelah aksi penutupan pada Agustus yang berakhir dengan bentrokan.

Namun, para pengunjuk rasa secara rutin mengabaikan langkah hukum untuk melarang tindakan mereka sejak gerakan anti-pemerintah bangkit kembali tiga bulan lalu.

Para demonstran berpakaian hitam sudah menargetkan bandara sejak tiga minggu lalu. Kemacetan di terminal dalam bentrokan keras dengan polisi dan mendorong beberapa jadwal penerbangan dibatalkan atau ditunda.

Aksi demonstrasi ini juga membuat otoritas setempat menangguhkan perjalanan kereta api ke bandara. Hal ini dilakukan setelah pengunjuk rasa mendesak masyarakat untuk membanjiri jaringan jalan ke salah satu bandara tersibuk dan paling efisien di dunia itu.

Para pengunjuk rasa dilaporkan meninggalkan bandara pada sore hari dan ribuan orang berada di jalan menuju kota baru Tung Chung di dekatnya.

Demonstrasi hari ini terjadi setelah polisi dan pemrotes bentrok malam sebelumnya dalam beberapa kekerasan paling intens sejak kerusuhan meletus lebih dari tiga bulan lalu.

Pada Sabtu (31/8) kemarin, ribuan orang itu nekat melakukan aksi meski sebelumnya polisi sudah mengeluarkan larangan untuk tidak berunjuk rasa di akhir pekan atas alasan keamanan publik. Pihak kepolisian Hong Kong lantas mengambil tindakan dengan menembakkan meriam air dan gas air mata ke arah demonstran yang berkumpul di depan gedung parlemen.

Kericuhan terjadi saat para pengunjuk rasa melakukan aksi bakar-bakaran, melemparkan batu dan mengarahkan laser ke polisi anti huru hara yang berusaha membubarkan mereka. Para pedemo juga berusaha menerobos barikade yang dipasang di depan gedung parlemen.

Kepolisian mengeluarkan larangan unjuk rasa akhir pekan ini merujuk pada aksi-aksi sebelumnya, di mana demonstran tak hanya membawa “bahan bakar, alat untuk memblokade jalan, tapi juga bom bensin, bata, tombak, tiang baja, juga senjata buatan lainnya untuk menghancurkan properti publik, melanggar aturan sosial, dan melukai orang lain.”

Awalnya kelompok pegiat Front Hak Asasi Manusia Hong Kong (CHRF) yang menggagas aksi demonstrasi damai pada akhir pekan ini memutuskan membatalkan rencana mereka setelah gagal mendapatkan izin dari kepolisian, serta penangkapan dan penganiayaan terhadap sejumlah tokoh aktivis. Namun, tak adanya izin ternyata tak menghentikan pemrotes melakukan aksi. (agn/eks)

Editor: HEY
Sumber: CNNIndonesia